Jepang dan Jerman Bertekuk Lutut, Ekspor Mobil China Sebulan Setara Setahun Pasar Indonesia
Senin, 13 April 2026 - 10:25 WIB
loading...
A
A
A
Laporan bulan Maret 2026 menelanjangi borok ini: penjualan domestik anjlok parah sebesar 15,2 persen menjadi hanya 1,67 juta kendaraan. Lebih tragis lagi, ini adalah bulan keenam berturut-turut pasar domestik China mengalami kontraksi.
Penjualan mobil bermesin pembakaran internal (bensin) di dalam negeri amblas 15,7 persen di bulan Maret, memperburuk tren penurunan 13,4 persen yang terjadi pada periode Januari hingga Februari.
Bahkan, pasar kendaraan elektrifikasi (EV dan PHEV) yang dibanggakan pun ikut tersungkur, anjlok 14,4 persen secara tahunan (year-on-year). Penyebabnya jelas: pemulihan ekonomi China yang tersendat, dihentikannya insentif pembebasan pajak pembelian EV, serta meroketnya harga minyak akibat konflik Timur Tengah (meski pemerintah telah membatasi kenaikan harga BBM domestik).
Raksasa sebesar BYD pun tak luput dari badai ini. Mereka mencatatkan penurunan penjualan domestik selama tujuh bulan berturut-turut hingga Maret 2026. Di lapangan, para dealer atau tenaga penjual mobil di China menjerit.
Indeks yang melacak kendaraan tak terjual kembali merangkak naik bulan lalu. Mereka mati-matian menanggung beban inventaris yang membengkak karena konsumen lokal kehilangan selera belanja.
Di sinilah letak kritiknya. Ketika pasar dalam negeri yang super kompetitif itu tak lagi mampu menyerap jutaan mobil yang diproduksi setiap bulannya, pabrikan China tidak punya pilihan lain selain membanting harga dan membanjiri pasar luar negeri.
Dunia internasional kini tidak hanya sedang menikmati inovasi otomotif murah dari Timur, tetapi pada hakikatnya, dunia sedang dijadikan tempat pembuangan raksasa bagi produk-produk yang gagal terserap di negara asalnya.
Penjualan mobil bermesin pembakaran internal (bensin) di dalam negeri amblas 15,7 persen di bulan Maret, memperburuk tren penurunan 13,4 persen yang terjadi pada periode Januari hingga Februari.
Bahkan, pasar kendaraan elektrifikasi (EV dan PHEV) yang dibanggakan pun ikut tersungkur, anjlok 14,4 persen secara tahunan (year-on-year). Penyebabnya jelas: pemulihan ekonomi China yang tersendat, dihentikannya insentif pembebasan pajak pembelian EV, serta meroketnya harga minyak akibat konflik Timur Tengah (meski pemerintah telah membatasi kenaikan harga BBM domestik).
Raksasa sebesar BYD pun tak luput dari badai ini. Mereka mencatatkan penurunan penjualan domestik selama tujuh bulan berturut-turut hingga Maret 2026. Di lapangan, para dealer atau tenaga penjual mobil di China menjerit.
Indeks yang melacak kendaraan tak terjual kembali merangkak naik bulan lalu. Mereka mati-matian menanggung beban inventaris yang membengkak karena konsumen lokal kehilangan selera belanja.
Di sinilah letak kritiknya. Ketika pasar dalam negeri yang super kompetitif itu tak lagi mampu menyerap jutaan mobil yang diproduksi setiap bulannya, pabrikan China tidak punya pilihan lain selain membanting harga dan membanjiri pasar luar negeri.
Dunia internasional kini tidak hanya sedang menikmati inovasi otomotif murah dari Timur, tetapi pada hakikatnya, dunia sedang dijadikan tempat pembuangan raksasa bagi produk-produk yang gagal terserap di negara asalnya.
(dan)
Lihat Juga :