Apple Gandeng Intel Bikin Chip di AS: Apa Dampaknya buat Konsumen?
Jum'at, 19 Juni 2026 - 16:20 WIB
loading...
Selama ini chip Apple paling canggih dibuat TSMC di Taiwan. Foto: Gemini
A
A
A
CALIFORNIA - Presiden Donald Trump mengumumkan: Apple setuju bekerja sama dengan Intel. Merancang dan memproduksi chip. Di Amerika. Diumumkan lewat Truth Social, Kamis.
Pasar langsung bereaksi. Saham Intel melonjak — 7 persen ke rekor (versi Reuters), bahkan disebut 10 persen ke sekitar USD133. Tahun ini saja Intel sudah naik 228 persen. Apple? Naik tipis, 0,8 persen.
Selama ini chip Apple paling canggih dibuat TSMC di Taiwan. Satu pemasok. Satu pulau.
Masalahnya, TSMC lagi kewalahan. Permintaan chip AI dari Nvidia dan AMD membeludak. Antreannya panjang.
Intel pernah memasok prosesor Mac sekitar 15 tahun, sampai 2020. Lalu Apple pindah ke chip M-series buatan sendiri — yang diproduksi TSMC. M-series itulah yang mendongkrak penjualan Mac.
Sekarang Apple mau menyebar risiko. Tambah kapasitas. Tambah lokasi produksi.
Artinya sederhana. Chip makin mahal. Gadget makin mahal. Termasuk iPhone dan MacBook Anda.
Kerja sama dengan Intel adalah salah satu cara Apple menambah pasokan. Lebih banyak kapasitas, harapannya, menekan tekanan harga.
Tapi ada catatan. Bikin chip di Amerika belum tentu lebih murah dari Taiwan. Bisa jadi malah lebih mahal. Kalau ongkos produksi naik, ujung-ujungnya bisa mampir juga ke label harga.
Dengan sebagian produksi pindah ke AS, risiko itu menyebar. Pasokan lebih tahan guncangan. Buat konsumen: lebih kecil peluang kelangkaan dan inden panjang.
Wall Street Journal menyebut kesepakatan awal sudah tercapai Mei lalu, setelah lebih dari setahun pembicaraan. Tapi cakupannya belum jelas. Trump pun tak menyebut chip jenis apa.
Kedua, teknologinya belum matang penuh. Proses 18A Intel baru di tahap produksi awal (risk production). Proses generasi berikutnya, 14A, baru diperkirakan produksi massal pada 2029 — pelanggan pertamanya Tesla.
Ketiga, bikin chip canggih itu rumit. Naik kelas produksi butuh bertahun-tahun penyempurnaan. Bisa molor.
Jadi: dampak ke harga dan produk di tangan konsumen tidak instan. Ini permainan jangka panjang.
Pertanyaannya: kalau sebagian chip dibuat Intel, apakah kualitas dan efisiensinya setara? Konsumen tidak mau bayar mahal untuk performa atau daya tahan baterai yang justru turun.
Belum ada jawaban. Tapi ini yang harus diawasi.
Pemerintah AS sendiri sudah pegang 10 persen saham Intel; nilainya pernah tembus USD50 miliar.
Trump bahkan berkata "seharusnya minta lebih banyak". Tahun lalu, ia sempat meminta CEO Intel Lip-Bu Tan mundur karena kaitannya dengan Tiongkok — sebelum akhirnya pemerintah jadi pemegang saham terbesar.
Bisnis Intel mulai membaik. Intel Foundry mencatat pendapatan USD5,4 miliar pada kuartal I 2026, naik 20 persen dari kuartal sebelumnya. Laba per saham non-GAAP USD0,29— melampaui prediksi impas. Tan bilang, "2026 adalah tahun eksekusi".
Tapi sahamnya juga sudah mahal. Rasio P/E ke depan 147 kali. Laba 12 bulan terakhir masih minus. Bank of America lewat Vivek Arya menaikkan rekomendasi dari Underperform ke Buy, dengan target harga USD135 dari sebelumnya USD96.
Jangka panjang: pasokan berpotensi lebih aman, dan persaingan TSMC vs Intel bisa menyehatkan pasar buat konsumen.
Tapi semua bergantung pada satu kata: eksekusi.
Pasar langsung bereaksi. Saham Intel melonjak — 7 persen ke rekor (versi Reuters), bahkan disebut 10 persen ke sekitar USD133. Tahun ini saja Intel sudah naik 228 persen. Apple? Naik tipis, 0,8 persen.
Selama ini chip Apple paling canggih dibuat TSMC di Taiwan. Satu pemasok. Satu pulau.
Masalahnya, TSMC lagi kewalahan. Permintaan chip AI dari Nvidia dan AMD membeludak. Antreannya panjang.
Intel pernah memasok prosesor Mac sekitar 15 tahun, sampai 2020. Lalu Apple pindah ke chip M-series buatan sendiri — yang diproduksi TSMC. M-series itulah yang mendongkrak penjualan Mac.
Sekarang Apple mau menyebar risiko. Tambah kapasitas. Tambah lokasi produksi.
Dampak #1: harga bisa naik
Ini bagian yang paling kena ke konsumen. CEO Apple Tim Cook sudah memberi sinyal. Kenaikan harga, katanya, "tak terhindarkan". Penyebabnya: harga chip memori dan penyimpanan melonjak — gara-gara permintaan AI.Artinya sederhana. Chip makin mahal. Gadget makin mahal. Termasuk iPhone dan MacBook Anda.
Kerja sama dengan Intel adalah salah satu cara Apple menambah pasokan. Lebih banyak kapasitas, harapannya, menekan tekanan harga.
Tapi ada catatan. Bikin chip di Amerika belum tentu lebih murah dari Taiwan. Bisa jadi malah lebih mahal. Kalau ongkos produksi naik, ujung-ujungnya bisa mampir juga ke label harga.
Dampak #2: pasokan lebih aman
Ini kabar baiknya. Selama produksi menumpuk di Taiwan, ada risiko. Ketegangan dengan Tiongkok. Gangguan pasokan. Kalau Taiwan terganggu, dunia kekurangan chip.Dengan sebagian produksi pindah ke AS, risiko itu menyebar. Pasokan lebih tahan guncangan. Buat konsumen: lebih kecil peluang kelangkaan dan inden panjang.
Dampak #3: jangan harap cepat
Jangan terlalu girang dulu. Pertama, kesepakatan ini belum dikonfirmasi resmi oleh Apple maupun Intel.Wall Street Journal menyebut kesepakatan awal sudah tercapai Mei lalu, setelah lebih dari setahun pembicaraan. Tapi cakupannya belum jelas. Trump pun tak menyebut chip jenis apa.
Kedua, teknologinya belum matang penuh. Proses 18A Intel baru di tahap produksi awal (risk production). Proses generasi berikutnya, 14A, baru diperkirakan produksi massal pada 2029 — pelanggan pertamanya Tesla.
Ketiga, bikin chip canggih itu rumit. Naik kelas produksi butuh bertahun-tahun penyempurnaan. Bisa molor.
Jadi: dampak ke harga dan produk di tangan konsumen tidak instan. Ini permainan jangka panjang.
Dampak #4: pertanyaan kualitas
Ada satu lagi yang diam-diam penting. M-series di TSMC terbukti bagus. Hemat daya. Kencang. Itu yang bikin MacBook laris.Pertanyaannya: kalau sebagian chip dibuat Intel, apakah kualitas dan efisiensinya setara? Konsumen tidak mau bayar mahal untuk performa atau daya tahan baterai yang justru turun.
Belum ada jawaban. Tapi ini yang harus diawasi.
Kenapa Intel butuh Apple
Buat Intel, ini validasi besar. Intel bertahun-tahun tertinggal dari TSMC. Pesaingnya, AMD, juga menggerogoti: di pasar CPU server, AMD merebut 33 persen pada kuartal I 2026 — naik 6 poin persen dalam setahun.Pemerintah AS sendiri sudah pegang 10 persen saham Intel; nilainya pernah tembus USD50 miliar.
Trump bahkan berkata "seharusnya minta lebih banyak". Tahun lalu, ia sempat meminta CEO Intel Lip-Bu Tan mundur karena kaitannya dengan Tiongkok — sebelum akhirnya pemerintah jadi pemegang saham terbesar.
Bisnis Intel mulai membaik. Intel Foundry mencatat pendapatan USD5,4 miliar pada kuartal I 2026, naik 20 persen dari kuartal sebelumnya. Laba per saham non-GAAP USD0,29— melampaui prediksi impas. Tan bilang, "2026 adalah tahun eksekusi".
Tapi sahamnya juga sudah mahal. Rasio P/E ke depan 147 kali. Laba 12 bulan terakhir masih minus. Bank of America lewat Vivek Arya menaikkan rekomendasi dari Underperform ke Buy, dengan target harga USD135 dari sebelumnya USD96.
Apa dampak bagi konsumen?
Jangka pendek: belum ada yang berubah. Harga gadget bahkan cenderung naik karena lonjakan harga chip AI.Jangka panjang: pasokan berpotensi lebih aman, dan persaingan TSMC vs Intel bisa menyehatkan pasar buat konsumen.
Tapi semua bergantung pada satu kata: eksekusi.
(dan)
Lihat Juga :