Peran Perempuan di Industri Teknologi Harus Lebih Besar
Selasa, 06 Oktober 2020 - 15:15 WIB
loading...
A
A
A
Saya tertarik bergabung dengan Xendit karena ingin mengambil peran di perusahaan financial technology yang fokus membangun infrastruktur pembayaran di Indonesia dan Asia Tenggara. Solusi Xendit memang untuk menyederhanakan proses pembayaran bagi bisnis di Indonesia. Mulai dari UKM, startup e-commerce, hingga perusahaan besar. Sistem Xendit bisa menerima pembayaran dari akun virtual, kartu kredit dan debit, e-Wallets, outlet ritel (Alfamart dan Indomaret), serta kartu kredit online.
Saat kali pertama bergabung di Xendit, peran saya sebagai manajer produk. Lantas berpindah-pindah untuk melakukan segala hal yang dibutuhkan mulai dari pengembangan bisnis, kesuksesan pelanggan, hingga operasi keuangan. Kegagalan dalam membuat produk sudah biasa, tapi saya terus bangkit, juga belajar dan mengulangi membuat produk yang diinginkan orang. (Baca juga: Fadli Zon Ajak Presiden Jokowi Merenung)
Bagi saya, pekerjaan bukan selalu tentang gelar dan peran. Namun, soal apa yang bisa pelajari darinya justru yang terpenting. Sebagai COO, saat ini menangani keseluruhan operasi bisnis perusahaan, termasuk layanan dan dukungan, kemitraan, pemerintahan, serta hubungan masyarakat.
Saya menjadi COO pertama Xendit pada 2018. Mengawasi pertumbuhan perusahaan dari 30 orang menjadi 200 karyawan. Begitu juga menjalin mitra dengan lembaga keuangan terbesar di Indonesia. Namun, dengan pertumbuhan yang masif dan menarik di bidang teknologi, saya masih melihat besarnya kesenjangan gender antara pria dan wanita yang berpartisipasi dalam industri ini. (Baca juga: Penemu Virus Hepatitis C Raih Nobel Bidang Kesehatan)
Itu sebabnya, pada 2020, saya menginisiasi platform “Women in Tech Indonesia” untuk menyediakan wadah berbagi bagi perempuan untuk saling belajar. Saya ingin mempertemukan para teknopreneur wanita, developer, dan bahkan calon teknisi untuk bertukar pengetahuan serta pengalaman melalui serangkaian lokakarya dan forum sosial.
Saat kali pertama bergabung di Xendit, peran saya sebagai manajer produk. Lantas berpindah-pindah untuk melakukan segala hal yang dibutuhkan mulai dari pengembangan bisnis, kesuksesan pelanggan, hingga operasi keuangan. Kegagalan dalam membuat produk sudah biasa, tapi saya terus bangkit, juga belajar dan mengulangi membuat produk yang diinginkan orang. (Baca juga: Fadli Zon Ajak Presiden Jokowi Merenung)
Bagi saya, pekerjaan bukan selalu tentang gelar dan peran. Namun, soal apa yang bisa pelajari darinya justru yang terpenting. Sebagai COO, saat ini menangani keseluruhan operasi bisnis perusahaan, termasuk layanan dan dukungan, kemitraan, pemerintahan, serta hubungan masyarakat.
Saya menjadi COO pertama Xendit pada 2018. Mengawasi pertumbuhan perusahaan dari 30 orang menjadi 200 karyawan. Begitu juga menjalin mitra dengan lembaga keuangan terbesar di Indonesia. Namun, dengan pertumbuhan yang masif dan menarik di bidang teknologi, saya masih melihat besarnya kesenjangan gender antara pria dan wanita yang berpartisipasi dalam industri ini. (Baca juga: Penemu Virus Hepatitis C Raih Nobel Bidang Kesehatan)
Itu sebabnya, pada 2020, saya menginisiasi platform “Women in Tech Indonesia” untuk menyediakan wadah berbagi bagi perempuan untuk saling belajar. Saya ingin mempertemukan para teknopreneur wanita, developer, dan bahkan calon teknisi untuk bertukar pengetahuan serta pengalaman melalui serangkaian lokakarya dan forum sosial.
Lihat Juga :