Isi Baterai Mobil Listrik Kini Semakin Mudah dan Murah
Minggu, 28 Februari 2021 - 21:36 WIB
loading...
A
A
A
(Baca Juga : Soal Tesla Pilih India, Luhut: Kami Tak Pernah Bicara Pabrik Mobil )
Secara populasi, Agung memperkirakan, prospek pengguna kendaraan listrik dapat mencapai 28 ribu unit dalam satu tahun. Secara global, tren penggunaan kendaraan listrik memang terus meningkat setiap tahun. Data International Energy Agency (IEA) menyebutkan, pada 2020 penjualan mobil listrik global menembus 3 juta unit, tumbuh lebih dari 40% dibandingkan penjualan mobil listrik pada 2019 yang hanya mencaai 2,1 juta unit. Dengan demikian, selama satu dekade sejak pertama kali dipasarkan secara komersial pada 2010 silam, populasi mobil listrik global sudah menembus 10 juta unit. Pertumbuhan populasi mobil listrik terbesar saat ini yakni Norwegia yang bertumbuh 56%, kemudian Islandia 25,5% dan Belanda 15%. Agung mengatakan, penggunaan mobil listrik di Indonesia sangat menjanjikan di masa mendatang. Secara global saat ini penggunaan energi yang lebih ramah ligkungan menjadi fokus banyak pihak.
“Secara operasional mobil listrik juga lebih murah, biaya operasional mobil listrik mencapai lima kali lebih hemat daripada biaya operasional mobil berbasis BBM,”paparnya. Klaim Agung tersebut tak berlebihan. Sebab, salah satu pengguna mobil listrik, Andi Apriatna (38) membuktikan mudah dan murahnya mengisi baterai mobil listrik. “Bisa dilakukan di rumah tanpa ada tambahan alat apa pun. Langsung dicolokkan ke lubang stop kontak rumah,’’ujarnya. Meskipun rumahnya di kawasan Waung Buncit hanya memiliki daya 2.200 VA, namun Andi mengaku tak menemui kendala apapun. “Dayanya kuat, tetapi memang membutuhkan waktu untuk mengisi baterai hingga penuh,’’ungkapnya.
(Baca Juga : Bos BKPM: Jangan Pesimis, Negosiasi dengan Tesla Masih Jalan! )
Mobil yang digunakan Andi yakni Hyundai Ionic yang diproduksi oleh pabrikan Korea Hyundai Motor Co. Dia mengungkapkan, untuk konsumsi energinya pun mobil listrik jauh lebih murah dibandingkan dengan mobil konvensional berbahan bakar bensin. “Saya mengemudiakan Ionic dari Jakarta ke Bogor konsumsi listriknya 10 kilometer per kWh. Sedangkan biaya pengisiannya Rp1.600 per kWh,’’ungkapnya. Itu berarti, ongkos yang dikeluarkan Andi hanya Rp16 ribu untuk jarak tempuh 100 kilometer. Sedangkan apabila menggunakan mobil berbahan bakar bensin, dengan asumsi konsumsi energinya sama yakni 10 kilometer per liter, dengan menggunakan BBM jenis Pertalite yang dibanderol Rp7.650 per liter, maka dibutuhkan biaya Rp76.500 untuk menempuh jarak 100 kilometer. “Tempat pengisan baterai (SPKLU) sekarang sudah banyak. Di perkantoran, mal, bahkan di tol Trans Jawa pun sudah ada. Jadi bisa diisi dimana saja,”ungkapnya.
Dia pun berharap agar PLN terus menambah jumlah SPKLU khususnya di daerah-daerah dengan lalu lintas kendaraan yang padat. “Misalnya, di jalan nasional pantai utara Jawa. Disitu sepertinya belum ada. Karena jalur itu menjadi alternatif masyarakat jika tol trans Jawa ada kendala misalnya terjadi kemacetan yang parah,”paparnya.
Infrastruktur Menjadi Kunci
Secara populasi, Agung memperkirakan, prospek pengguna kendaraan listrik dapat mencapai 28 ribu unit dalam satu tahun. Secara global, tren penggunaan kendaraan listrik memang terus meningkat setiap tahun. Data International Energy Agency (IEA) menyebutkan, pada 2020 penjualan mobil listrik global menembus 3 juta unit, tumbuh lebih dari 40% dibandingkan penjualan mobil listrik pada 2019 yang hanya mencaai 2,1 juta unit. Dengan demikian, selama satu dekade sejak pertama kali dipasarkan secara komersial pada 2010 silam, populasi mobil listrik global sudah menembus 10 juta unit. Pertumbuhan populasi mobil listrik terbesar saat ini yakni Norwegia yang bertumbuh 56%, kemudian Islandia 25,5% dan Belanda 15%. Agung mengatakan, penggunaan mobil listrik di Indonesia sangat menjanjikan di masa mendatang. Secara global saat ini penggunaan energi yang lebih ramah ligkungan menjadi fokus banyak pihak.
“Secara operasional mobil listrik juga lebih murah, biaya operasional mobil listrik mencapai lima kali lebih hemat daripada biaya operasional mobil berbasis BBM,”paparnya. Klaim Agung tersebut tak berlebihan. Sebab, salah satu pengguna mobil listrik, Andi Apriatna (38) membuktikan mudah dan murahnya mengisi baterai mobil listrik. “Bisa dilakukan di rumah tanpa ada tambahan alat apa pun. Langsung dicolokkan ke lubang stop kontak rumah,’’ujarnya. Meskipun rumahnya di kawasan Waung Buncit hanya memiliki daya 2.200 VA, namun Andi mengaku tak menemui kendala apapun. “Dayanya kuat, tetapi memang membutuhkan waktu untuk mengisi baterai hingga penuh,’’ungkapnya.
(Baca Juga : Bos BKPM: Jangan Pesimis, Negosiasi dengan Tesla Masih Jalan! )
Mobil yang digunakan Andi yakni Hyundai Ionic yang diproduksi oleh pabrikan Korea Hyundai Motor Co. Dia mengungkapkan, untuk konsumsi energinya pun mobil listrik jauh lebih murah dibandingkan dengan mobil konvensional berbahan bakar bensin. “Saya mengemudiakan Ionic dari Jakarta ke Bogor konsumsi listriknya 10 kilometer per kWh. Sedangkan biaya pengisiannya Rp1.600 per kWh,’’ungkapnya. Itu berarti, ongkos yang dikeluarkan Andi hanya Rp16 ribu untuk jarak tempuh 100 kilometer. Sedangkan apabila menggunakan mobil berbahan bakar bensin, dengan asumsi konsumsi energinya sama yakni 10 kilometer per liter, dengan menggunakan BBM jenis Pertalite yang dibanderol Rp7.650 per liter, maka dibutuhkan biaya Rp76.500 untuk menempuh jarak 100 kilometer. “Tempat pengisan baterai (SPKLU) sekarang sudah banyak. Di perkantoran, mal, bahkan di tol Trans Jawa pun sudah ada. Jadi bisa diisi dimana saja,”ungkapnya.
Dia pun berharap agar PLN terus menambah jumlah SPKLU khususnya di daerah-daerah dengan lalu lintas kendaraan yang padat. “Misalnya, di jalan nasional pantai utara Jawa. Disitu sepertinya belum ada. Karena jalur itu menjadi alternatif masyarakat jika tol trans Jawa ada kendala misalnya terjadi kemacetan yang parah,”paparnya.
Infrastruktur Menjadi Kunci
Lihat Juga :