Lapisan Es Kian Menipis, Suhu di Antartika Naik 1,8 Derajat Celsius

Sabtu, 04 Juli 2020 - 12:10 WIB
loading...
Lapisan Es Kian Menipis,...
Kutub Selatan memiliki banyak sekali lapisan es tebal yang bermanfaat untuk kelangsungan hidup manusia. Namun, hampir setiap tahun jumlah es di kutub Selatan menipis akibat pemanasan global. Foto/dok
A A A
KUTUB Selatan memiliki banyak sekali lapisan es tebal yang bermanfaat untuk kelangsungan hidup manusia. Namun, hampir setiap tahun jumlah es di kutub Selatan menipis akibat pemanasan global.

Penelitian yang dipimpin profesor dari Universitas Ohio, Ryan Fogt, dan alumni kampus itu, Kyle Clem, mengungkapkan bahwa Kutub Selatan telah mengalami pemanasan global yang tidak biasa. Pemanasan global luar biasa itu terjadi lebih dari tiga kali dalam waktu 30 tahun terakhir. Fogt merupakan profesor meteorologi dan direktur Laboratorium Scalia untuk analisis atmosfer. Adapun Clem penulis hasil penelitian dengan tim ilmuwan internasional. (Baca: Delapan Asteroid Besar Selalu Bikin Ketar-Ketir Penduduk Bumi)

Hasil penelitian mengatakan bahwa periode pemanasan ini lebih didorong oleh variabilitas iklim tropis alami. Namun, ada kemungkinan bahwa pemanasan yang terjadi akibat penambahan gas rumah kaca.

Saat ini, Clem belajar tentang ilmu iklim di Universitas Victoria Vellington di Selandia Baru. Ia adalah anak didik Fogt untuk mendapatkan gelar sarjana dan master di Universitas Ohio.

“Sayamemiliki hasrat untuk memahami cuaca dan daya tarik kekuatan dan ketidakpastiannya sejauh yang saya ingat,” kata Clem, dikutip dari Sciencedaily .

Clem menceritakan pengalamannya, yaitu dia dapat mempelajari semua tentang Antartika dan iklim Belahan Selatan, selama bekerja dengan Fogt. Lebih khusus dia belajar bagaimana Antartika Barat bisa memanas dan lapisan esnya menipis yang berkontribusi pada kenaikan permukaan air laut.

“Saya juga belajar bahwa Antartika mengalami beberapa cuaca yang paling ekstrem dan variabilitas di planet ini, dan karena lokasinya yang terpencil, kita sebenarnya tahu sedikit tentang benua itu. Jadi ada kejutan dan hal-hal baru untuk dipelajari tentang Antartika setiap tahun,” katanya. (Baca juga: Rentetan Fenomena Alam di Juli 2020 dari Gerhana hingga Hujan Metero)

Iklim Antartika menunjukkan beberapa rentang suhu terbesar selama tahun ini. Beberapa tren suhu terbesar juga terjadi di planet ini dengan kontras regional yang kuat. Sebagian besar Antartika Barat dan Semenanjung Antartika mengalami pemanasan dan penipisan lapisan es pada akhir abad ke-20. Wilayah pedalaman yang terpencil dan tinggi di Kutub Selatan juga hanya mendingin hingga 1980-an, kemudian menghangat secara substansial.

Pemanasan yang terjadi cenderung dipengaruhi oleh perubahan iklim alami dan atropogenik. Namun, kemungkinan ada kontribusi individu dari masing-masing faktor meski belum dapat dipahami dengan baik.

Clem dan timnya menganalisis data stasiun cuaca di Kutub Selatan dan model iklim untuk memeriksa pemanasan di pedalaman Antartika. Mereka menemukan antara 1989 dan 2018, Kutub Selatan telah memanas sekitar 1,8°C selama 30 tahun terakhir dengan laju peningkatan +0,6°C setiap dekade. (Lihat videonya: Diduga Gunakan Ilmu Kebal, Pencuri Jadi Bulan-bulanan Warga)

Hasil penelitian juga menemukan bahwa peningkatan suhu panas tinggi terjadi di bagian dalam Antartika selama 30 tahun terakhir. Hal ini didorong oleh daerah tropis, khususnya suhu lautan, hangat di Samudra Pasifik tropis barat yang mengubah angin di Atlantik Selatan dekat Antartika dan meningkatkan pengiriman panas.

Clem dan Fogt berpendapat bahwa tren pemanasan ini tidak mungkin merupakan hasil dari perubahan iklim alami saja. Ada faktor lain yang menyebabkan naiknya suhu di Antartika. “Sejak awal saya dan Clem bekerja sangat baik dan mampu mencapai lebih banyak sebagai tim dari pada kami secara individu,” kata Fogt. (Fandy)
(ysw)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Standar Emisi Euro 5+...
Standar Emisi Euro 5+ Akan Diperkenalkan pada 2024
Ducati Bangun Pabrik...
Ducati Bangun Pabrik dengan Memanfaatkan Air dan Cahaya sebagai Energi
Porsche Resmi Produksi...
Porsche Resmi Produksi Bahan Bakar Sintetis Jenis Baru
Ternyata Partikel Kecil...
Ternyata Partikel Kecil Plastik Bisa Pengaruhi Pemanasan Global
Ketika Bumi Berhenti...
Ketika Bumi Berhenti Bersabar
Mengenal Konsep Green...
Mengenal Konsep Green Building dan Manfaat Penerapannya
WMO: Kawasan Arab Menghangat...
WMO: Kawasan Arab Menghangat Dua Kali Lebih Cepat dari Rata-Rata Global
Rekomendasi
Tembus Pasar Global,...
Tembus Pasar Global, Brand Lokal Queensi Sukses Cetak Rekor 1 Juta Penjualan
Bangun Sinergitas, Pemkot...
Bangun Sinergitas, Pemkot Bogor Bersama Pelaku Usaha Ikuti Kompetisi Padel
Perkuat Nasionalisme,...
Perkuat Nasionalisme, TNI Gelar Nobar Kebangsaan Piala Dunia 2026 di 1.500 Lokasi
Berita Terkini
Perang Berdarah SUV...
Perang Berdarah SUV Listrik: Leapmotor B10 Masuk di Bawah Rp 500 Juta, Siapa Terjungkal?
Tak Mau Cuma Impor,...
Tak Mau Cuma Impor, Raksasa EV China Leapmotor Langsung Rakit B10 di Jawa Barat
Baterai Menyatu Rangka,...
Baterai Menyatu Rangka, Jok Jadi Kasur, Layar Dasbor 2.5K, Leapmotor B10 SUV China Rasa Eropa
Mengapa Proyek Tank...
Mengapa Proyek Tank MGCS Eropa Berisiko Gagal?
Dorong Ekosistem EV,...
Dorong Ekosistem EV, Wuling Berkolaborasi dengan Grab
Harga BBM Naik, Gunakan...
Harga BBM Naik, Gunakan iCAR V23 hanya Rp38 Ribu Seminggu
Infografis
10 Pemain Bintang yang...
10 Pemain Bintang yang Absen di Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved