Sempat Deg-degan, Ngegas DFSK Gelora E Lampung-Jakarta Habiskan Baterai 72 Persen
Kamis, 08 Juni 2023 - 13:56 WIB
Range anxiety muncul karena kendaraan listrik memiliki batasan jangkauan atau daya tempuh yang lebih rendah dibanding kendaraan bermotor konvensional. Selain itu, waktu pengisian daya pun lebih lama. Sebagai catatan, DFSK Gelora E menggunakan baterai Lithium-ion dengan kapasitas 42 kWH. Untuk pengisian di SPKLU fast charging dari 20%-80% butuh waktu 80 menit.
Karena itu, kami pun berkendara dengan sangat irit alias “ngegas seperlunya”. Juga, tidak menyalakan AC atau pendingin udara. Perjalanan tol Trans-Jawa dari Lampung menuju pelabuhan Bakauheni-Merak cukup lancar. SINDONews menjaga konsumsi baterai minim dengan melihat informasi di layar head unit 8 inci di DFSK Gelora E.
Di bagian Battery Info, ada jumlah daya listrik yang dikeluarkan saat kita membejek gas. Tipsnya adalah menjaga RPM stabil tidak lebih dari 2.000 serta daya keluar (discharging) antara 25 A-35 A.
Pertama Nyetir Kendaraan Listrik Niaga
Bagaimana rasanya mengemudikan kendaraan listrik niaga? Memang sedikit aneh. Mobil ini terbilang cukup bongsor. Lebar dan panjangnya sedikit lebih kecil dibanding Nissan Serena, tapi atapnya lebih tinggi.
Artinya, untung mengangkut penumpang dan barang sangat lega. Juga masih cukup lincah untuk masuk ke jalan-jalan sempit. Ada 2 varian yang ditawarkan, Minibus 7 penumpang untuk mengangkut penumpang. Bisa digunakan untuk angkutan kendaraan umum, travel, antar jemput karyawan, atau shuttle di sektor pariwisata.
Ada juga Blind Van untuk kebutuhan logistik, katering, angkutan barang, dan berbagai sektor lainnya.
SINDONews sudah mencoba macam-macam mobil listrik. Tapi, baru pertama kali mencoba mobil listrik dengan ukuran bongsor.
Jika biasanya mobil listrik tampil mewah (dengan harga mahal), baru pertama pula mendapati mobil listrik dengan kabin yang tidak mewah (karena untuk kebutuhan niaga).
Untungnya, tidak terlalu banyak penyesuaian. Baik itu saat memarkir kendaraan, saat naik ke kapal, atau melewati kemacetan. Mobil tetap terasa cukup lincah.
Karena itu, kami pun berkendara dengan sangat irit alias “ngegas seperlunya”. Juga, tidak menyalakan AC atau pendingin udara. Perjalanan tol Trans-Jawa dari Lampung menuju pelabuhan Bakauheni-Merak cukup lancar. SINDONews menjaga konsumsi baterai minim dengan melihat informasi di layar head unit 8 inci di DFSK Gelora E.
Di bagian Battery Info, ada jumlah daya listrik yang dikeluarkan saat kita membejek gas. Tipsnya adalah menjaga RPM stabil tidak lebih dari 2.000 serta daya keluar (discharging) antara 25 A-35 A.
Pertama Nyetir Kendaraan Listrik Niaga
Bagaimana rasanya mengemudikan kendaraan listrik niaga? Memang sedikit aneh. Mobil ini terbilang cukup bongsor. Lebar dan panjangnya sedikit lebih kecil dibanding Nissan Serena, tapi atapnya lebih tinggi.Artinya, untung mengangkut penumpang dan barang sangat lega. Juga masih cukup lincah untuk masuk ke jalan-jalan sempit. Ada 2 varian yang ditawarkan, Minibus 7 penumpang untuk mengangkut penumpang. Bisa digunakan untuk angkutan kendaraan umum, travel, antar jemput karyawan, atau shuttle di sektor pariwisata.
Ada juga Blind Van untuk kebutuhan logistik, katering, angkutan barang, dan berbagai sektor lainnya.
SINDONews sudah mencoba macam-macam mobil listrik. Tapi, baru pertama kali mencoba mobil listrik dengan ukuran bongsor.
Jika biasanya mobil listrik tampil mewah (dengan harga mahal), baru pertama pula mendapati mobil listrik dengan kabin yang tidak mewah (karena untuk kebutuhan niaga).
Untungnya, tidak terlalu banyak penyesuaian. Baik itu saat memarkir kendaraan, saat naik ke kapal, atau melewati kemacetan. Mobil tetap terasa cukup lincah.
Lihat Juga :