BYD Pangkas Target 16 Persen di 2025, Gara-gara Perang Harga dan Kejenuhan Pasar China?

Senin, 15 Desember 2025 - 13:54 WIB
Dampak finansialnya pun nyata dan menyakitkan. Laporan keuangan kuartal ketiga menunjukkan laba BYD anjlok 32,6 persen menjadi 7,82 miliar Yuan.

Ini penurunan kuartalan kedua berturut-turut. Perang harga di China, ditambah dengan berakhirnya subsidi pemerintah sebesar 20.000 Yuan (sekitar Rp 45,4 juta) untuk konsumen, telah menggerus margin keuntungan hingga ke tulang.

Meskipun Deutsche Bank masih optimis dengan proyeksi 4,7 juta unit dan Morningstar di angka 4,8 juta unit, revisi internal BYD ke angka 4,6 juta unit menunjukkan pesimisme manajemen melihat kondisi ekonomi China yang lesu, terhantam krisis properti berkepanjangan yang memukul daya beli masyarakat.

Satu-satunya Harapan: Melarikan Diri ke Luar Negeri

Di tengah awan mendung domestik, satu-satunya sinar matahari bagi BYD datang dari pasar ekspor. Penjualan luar negeri pada November meroket 326 persen year-on-year menembus angka 131.000 unit.

Sepanjang Januari hingga November, BYD telah menjual 4,18 juta kendaraan, atau sekitar 91 persen dari target yang telah direvisi.

Namun, mengandalkan ekspor bukanlah solusi jangka panjang yang aman, mengingat tembok tarif proteksionisme mulai dibangun di Eropa dan Amerika Utara.

BYD kini berdiri di persimpangan jalan. Transformasi mereka dari start-up baterai menjadi raksasa otomotif yang mampu menyaingi General Motors dan Ford memang patut diacungi jempol.

Integrasi vertikal—kemampuan memproduksi segala komponen secara mandiri—memang menekan biaya. Namun, efisiensi biaya tidak akan menyelamatkan perusahaan jika konsumen mulai bosan dan kompetitor menawarkan inovasi yang lebih segar.
(dan)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!