Tsunami Limbah 1 Juta Ton Baterai Mobil Listrik China di 2030
Sabtu, 03 Januari 2026 - 11:55 WIB
Jika baterai sudah terlalu rusak, mereka hanya menghancurkannya dan menjualnya kiloan kepada pengekstraksi logam langka. Risiko kebakaran, ledakan, serta kontaminasi racun ke tanah dan air menjadi ancaman nyata yang diabaikan demi profit.
Secara teknis, ada dua jalur resmi bagi baterai bekas: cascade utilization (penggunaan bertingkat) di mana baterai dipakai ulang untuk penyimpanan energi stasioner atau kendaraan kecepatan rendah, dan daur ulang penuh (full recycling) untuk mengambil logam berharganya.
Raksasa industri seperti CATL, BYD, dan Geely juga turun tangan menciptakan siklus tertutup (closed loop).
CATL, produsen baterai terbesar di China, melalui anak usahanya Brunp, telah membangun sistem canggih dengan lebih dari 240 depo pengumpulan. Mereka memiliki kapasitas pembuangan tahunan 270.000 ton dengan tingkat pemulihan logam nikel, kobalt, dan mangan di atas 99 persen.
BYD juga menjalankan operasi daur ulangnya sendiri, sementara Geely membangun sistem "manufaktur sirkular". Alex Li, insinyur baterai di Shanghai, menegaskan bahwa produsen adalah pihak yang paling siap menangani limbah ini karena mereka memahami kimiawi dan rantai pasoknya.
Pemilik mobil dari merek yang bangkrut ini menjadi "yatim piatu". Tanpa dukungan pabrikan resmi untuk mengambil kembali baterai bekas, mereka terpaksa lari ke pasar gelap, memperparah sirkulasi limbah tak terkontrol.
Tahun 2026 akan menjadi titik krusial. China harus berpacu dengan waktu untuk membangun sistem end-of-life yang komprehensif, yang mampu melacak, menggunakan kembali, dan mendaur ulang jutaan ton baterai sebelum "pasar hantu" mengubah solusi hijau ini menjadi bencana lingkungan baru.
Upaya Pemerintah dan Raksasa Industri
Pemerintah China bukannya tinggal diam. Sejak 2018, Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi telah merilis lima "daftar putih" (white lists) perusahaan daur ulang resmi yang kini berjumlah 156 perusahaan. Mereka diwajibkan mematuhi standar ketat pemulihan logam seperti litium, nikel, kobalt, dan mangan.Secara teknis, ada dua jalur resmi bagi baterai bekas: cascade utilization (penggunaan bertingkat) di mana baterai dipakai ulang untuk penyimpanan energi stasioner atau kendaraan kecepatan rendah, dan daur ulang penuh (full recycling) untuk mengambil logam berharganya.
Raksasa industri seperti CATL, BYD, dan Geely juga turun tangan menciptakan siklus tertutup (closed loop).
CATL, produsen baterai terbesar di China, melalui anak usahanya Brunp, telah membangun sistem canggih dengan lebih dari 240 depo pengumpulan. Mereka memiliki kapasitas pembuangan tahunan 270.000 ton dengan tingkat pemulihan logam nikel, kobalt, dan mangan di atas 99 persen.
BYD juga menjalankan operasi daur ulangnya sendiri, sementara Geely membangun sistem "manufaktur sirkular". Alex Li, insinyur baterai di Shanghai, menegaskan bahwa produsen adalah pihak yang paling siap menangani limbah ini karena mereka memahami kimiawi dan rantai pasoknya.
Tantangan Merek "Yatim Piatu"
Namun, ada lubang besar dalam jaring pengaman ini. Tidak semua konsumen bisa kembali ke pabrikan asal mobil mereka. Perang harga di China telah memakan korban: lebih dari 400 merek EV kecil dan startup bangkrut dalam lima tahun terakhir, menyisakan hanya sekitar 100 merek aktif saat ini.Pemilik mobil dari merek yang bangkrut ini menjadi "yatim piatu". Tanpa dukungan pabrikan resmi untuk mengambil kembali baterai bekas, mereka terpaksa lari ke pasar gelap, memperparah sirkulasi limbah tak terkontrol.
Tahun 2026 akan menjadi titik krusial. China harus berpacu dengan waktu untuk membangun sistem end-of-life yang komprehensif, yang mampu melacak, menggunakan kembali, dan mendaur ulang jutaan ton baterai sebelum "pasar hantu" mengubah solusi hijau ini menjadi bencana lingkungan baru.
(dan)
Lihat Juga :