Imbas Perang Timur Tengah: Harga Minyak Meroket, Angin Segar Buat Ekspansi Mobil Listrik China
Jum'at, 27 Maret 2026 - 16:34 WIB
Bukti ketahanan energi melalui elektrifikasi ini sudah terlihat nyata. Di negara-negara dengan tingkat adopsi EV tinggi, pukulan krisis bahan bakar terasa lebih ringan.
Di China, lebih dari 50 persen mobil baru yang terjual kini bertenaga listrik, sementara di Nepal angkanya menembus 70 persen.
“Listrik yang dihasilkan dari angin dan surya sebagian besar terisolasi dari volatilitas harga bahan bakar fosil – setelah dibangun, bahan bakarnya gratis," jelas Jan Rosenow, profesor energi di Universitas Oxford.
Namun, transisi hijau ini bukanlah jalan tol tanpa hambatan. Perang di Timur Tengah juga menciptakan ironi mematikan: menyumbat rantai pasokan material esensial untuk energi bersih.
Timur Tengah memproduksi sekitar 9 persen aluminium global, material krusial untuk panel surya dan infrastruktur EV. Akibat perang, banyak produsen di kawasan tersebut yang mulai menutup atau mengurangi operasinya, yang diprediksi akan mengerek biaya produksi teknologi bersih di masa depan.
Lebih parah lagi, krisis pasokan Gas Alam Cair (LNG)—terutama setelah hancurnya terminal LNG terbesar dunia di Qatar akibat serangan rudal dan drone Iran bulan ini—memaksa banyak negara Asia seperti India, Thailand, dan Vietnam kembali membakar batu bara, sumber energi paling kotor di bumi. Bahkan, tren penurunan penggunaan batu bara di China pada tahun 2025 diproyeksikan akan berbalik arah.
Kepanikan jangka pendek ini juga memicu fenomena "durian runtuh" (windfall profits) bagi perusahaan migas, yang langsung memutar kembali keuntungannya untuk ekspansi pengeboran baru.
Di China, lebih dari 50 persen mobil baru yang terjual kini bertenaga listrik, sementara di Nepal angkanya menembus 70 persen.
“Listrik yang dihasilkan dari angin dan surya sebagian besar terisolasi dari volatilitas harga bahan bakar fosil – setelah dibangun, bahan bakarnya gratis," jelas Jan Rosenow, profesor energi di Universitas Oxford.
Namun, transisi hijau ini bukanlah jalan tol tanpa hambatan. Perang di Timur Tengah juga menciptakan ironi mematikan: menyumbat rantai pasokan material esensial untuk energi bersih.
Timur Tengah memproduksi sekitar 9 persen aluminium global, material krusial untuk panel surya dan infrastruktur EV. Akibat perang, banyak produsen di kawasan tersebut yang mulai menutup atau mengurangi operasinya, yang diprediksi akan mengerek biaya produksi teknologi bersih di masa depan.
Lebih parah lagi, krisis pasokan Gas Alam Cair (LNG)—terutama setelah hancurnya terminal LNG terbesar dunia di Qatar akibat serangan rudal dan drone Iran bulan ini—memaksa banyak negara Asia seperti India, Thailand, dan Vietnam kembali membakar batu bara, sumber energi paling kotor di bumi. Bahkan, tren penurunan penggunaan batu bara di China pada tahun 2025 diproyeksikan akan berbalik arah.
Kepanikan jangka pendek ini juga memicu fenomena "durian runtuh" (windfall profits) bagi perusahaan migas, yang langsung memutar kembali keuntungannya untuk ekspansi pengeboran baru.
Lihat Juga :