Transportasi Langit Ramai-ramai Berebut Cuan Rp244,6 Triliun di Angkasa

Senin, 06 Desember 2021 - 23:00 WIB
Urbanisasi besar-besaran membuat kondisi kemacetan di berbagai negara semakin buruk. Dari situlah keinginan untuk membuat transportasi udara skala kecil mengemuka. "60 persen dari total penduduk di dunia akan berada di kota pada 2030 nanti. Jadi jalanan yang ada saat ini tidak akan sanggup mengakomodir dan akan sangat memakan biaya penggunannya," ujar Anna Kominik, Wisk Asia Pacific Director, perusahaan mobilitas udara otonom.

Peluang itulah yang kemudian dimanfaatkan oleh banyak perusahaan besar dan perusahaan rintisan (start up) dengan menghadirkan produk-produk baru transportasi udara yang unik. Saat ini bentuk transportasi udara yang akan dihadirkan juga beraneka ragam. Ada yang mirip seperti helikopter otonom, sepeda motor terbang, mobil terbang hingga taksi terbang.

Menariknya kehadiran moda transportasi baru itu juga diikuti dengan nilai lebih yang tidak dimiliki transportasi darat yang ada saat ini yakni biaya murah. Biaya transportasi yang lebih murah juga pernah disebutkan Rudy Salim, CEO Prestige Aviation, operator taksi terbang EHang 216 di Indonesia.

Baca juga : Bikin Mobil Listrik, Pangeran Mohmammad bin Salman Kerja Sama dengan Perusahaan Taiwan

Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!