Gaikindo Mendukung Insentif Tidak Hanya untuk Mobil Listrik, tapi Juga Hybrid, LCGC, hingga ICE
Selasa, 20 Mei 2025 - 18:51 WIB
loading...
A
A
A
Ekonom Riyanto dari LPEM UI menyatakan, industri mobil sedang mengalami resesi karena penjualan turun dua tahun beruntun. "Ibaratnya industri mobil sudah jatuh tertimpa tangga," kata Riyanto, menyoroti penambahan opsen pajak di beberapa daerah tahun ini. Ia yakin, pemberian insentif berkorelasi kuat dengan penjualan, terbukti dengan model regresi yang menunjukkan penjualan BEV berinsentif 57% lebih tinggi.
Oleh sebab itu, Riyanto menyerukan agar pemerintah memperluas insentif pajak, seperti PPN DTP ke mobil ICE, LCGC, hingga hybrid, dengan patokan emisi. Faktanya, emisi BEV berdasarkan metode well to wheel tidak selalu lebih rendah dari hybrid. Ia yakin, efek insentif LCGC, HEV, dan ICE lebih besar ke ekonomi dibandingkan BEV. Saat ini, BEV menghadapi tantangan berupa kecemasan jarak tempuh dan keterbatasan infrastruktur SPKLU, membuatnya lebih diburu pemilik mobil kedua dan ketiga, bukan mobil pertama. Sebaliknya, mobil ICE, LCGC, dan HEV berpeluang menjadi mobil pertama.
Baca Juga: Penjualan Masih Lemas, Insentif Mobil Listrik Bakal Dievaluasi, Apa Dampaknya?
"Dalam jangka pendek, perlu kebijakan fiskal seperti saat pandemi, entah itu diskon PPN atau PPnBM untuk menyelamatkan industri dari krisis. Hal yang penting adalah harga kendaraan turun," ungkap Riyanto. Dalam jangka panjang, pemerintah perlu membuat kajian untuk menemukan tarif pajak ideal dari sisi industri dan negara, tanpa takut rugi karena dampak ekonomi insentif ini sangat besar. Hitungan Riyanto, pemberian insentif PPnBM 0% dapat menyumbangkan PDB 0,8% dan tambahan tenaga kerja di otomotif 23 ribu dan dalam perekonomian (multiplier) 47 ribu orang.
Evaluasi insentif otomotif kali ini bukan sekadar penyesuaian angka, melainkan pertaruhan besar bagi masa depan industri otomotif Indonesia. Antara ambisi elektrifikasi, penyelamatan pasar yang lesu, dan keseimbangan ekonomi nasional, pemerintah dihadapkan pada keputusan krusial yang akan menentukan arah perjalanan ribuan triliun rupiah investasi dan jutaanlapangankerja.
Oleh sebab itu, Riyanto menyerukan agar pemerintah memperluas insentif pajak, seperti PPN DTP ke mobil ICE, LCGC, hingga hybrid, dengan patokan emisi. Faktanya, emisi BEV berdasarkan metode well to wheel tidak selalu lebih rendah dari hybrid. Ia yakin, efek insentif LCGC, HEV, dan ICE lebih besar ke ekonomi dibandingkan BEV. Saat ini, BEV menghadapi tantangan berupa kecemasan jarak tempuh dan keterbatasan infrastruktur SPKLU, membuatnya lebih diburu pemilik mobil kedua dan ketiga, bukan mobil pertama. Sebaliknya, mobil ICE, LCGC, dan HEV berpeluang menjadi mobil pertama.
Baca Juga: Penjualan Masih Lemas, Insentif Mobil Listrik Bakal Dievaluasi, Apa Dampaknya?
"Dalam jangka pendek, perlu kebijakan fiskal seperti saat pandemi, entah itu diskon PPN atau PPnBM untuk menyelamatkan industri dari krisis. Hal yang penting adalah harga kendaraan turun," ungkap Riyanto. Dalam jangka panjang, pemerintah perlu membuat kajian untuk menemukan tarif pajak ideal dari sisi industri dan negara, tanpa takut rugi karena dampak ekonomi insentif ini sangat besar. Hitungan Riyanto, pemberian insentif PPnBM 0% dapat menyumbangkan PDB 0,8% dan tambahan tenaga kerja di otomotif 23 ribu dan dalam perekonomian (multiplier) 47 ribu orang.
Evaluasi insentif otomotif kali ini bukan sekadar penyesuaian angka, melainkan pertaruhan besar bagi masa depan industri otomotif Indonesia. Antara ambisi elektrifikasi, penyelamatan pasar yang lesu, dan keseimbangan ekonomi nasional, pemerintah dihadapkan pada keputusan krusial yang akan menentukan arah perjalanan ribuan triliun rupiah investasi dan jutaanlapangankerja.
(dan)
Lihat Juga :