EREV: Jalan Tengah yang Diam-Diam Jadi Jawaban Industri Otomotif
Jum'at, 01 Mei 2026 - 14:24 WIB
loading...
A
A
A
Di sisi lain, pertumbuhan mobil listrik murni mulai melambat. Tidak lagi melonjak seperti beberapa tahun sebelumnya.
Industri mulai realistis. Tidak semua negara siap langsung beralih ke mobil listrik penuh.
Terutama negara berkembang seperti Indonesia. Infrastruktur charging belum merata. Perjalanan jarak jauh masih menjadi kekhawatiran utama konsumen.
EREV hadir sebagai solusi praktis. Tidak lagi sekadar soal efisiensi bahan bakar. Kini ia juga bicara soal performa dan fleksibilitas penggunaan. Pabrikan Eropa pun mulai mengubah strategi. Volkswagen dan Audi, yang sebelumnya sangat fokus pada BEV, kini mulai memasukkan EREV dalam rencana produk mereka.
Mereka menyiapkan lebih dari 20 model elektrifikasi baru pada 2026. Sebagian di antaranya adalah EREV. Ini sinyal penting bagi industri global.
Pasar tidak lagi hanya mengikuti idealisme teknologi. Pasar mulai mengikuti kebutuhan nyata konsumen.
Indonesia sendiri mulai menunjukkan sinyal awal. Changan sudah memberikan teaser Deepal S05. Model ini bukan hybrid biasa. Ia menggunakan sistem EREV.
Artinya arah perkembangan sudah mulai terlihat. Mengapa EREV mulai unggul? Jawabannya sederhana, tapi sebagian akan setuju.
Pertama, pengalaman berkendara yang sepenuhnya elektrik.
Tidak ada perpindahan gigi.
Tidak ada hentakan tenaga.
Semuanya halus seperti mobil listrik murni.
Kedua, kapasitas baterai yang semakin besar. Generasi terbaru EREV menggunakan baterai 30–50 kWh. Dengan kapasitas itu, mobil bisa menempuh 200–300 km hanya dengan listrik. Untuk penggunaan harian di kota seperti Jakarta, itu sudah lebih dari cukup.
Sebagian besar pengguna bahkan tidak perlu menggunakan bensin selama hari kerja. Mesin hanya aktif saat perjalanan jauh.
Ketiga, tidak bergantung penuh pada infrastruktur charging. Ini menjadi keunggulan utama di negara berkembang. EREV tetap bisa berjalan meski jaringan SPKLU belum merata. Karena selalu ada cadangan energi dari mesin bensin.
Industri mulai realistis. Tidak semua negara siap langsung beralih ke mobil listrik penuh.
Terutama negara berkembang seperti Indonesia. Infrastruktur charging belum merata. Perjalanan jarak jauh masih menjadi kekhawatiran utama konsumen.
EREV hadir sebagai solusi praktis. Tidak lagi sekadar soal efisiensi bahan bakar. Kini ia juga bicara soal performa dan fleksibilitas penggunaan. Pabrikan Eropa pun mulai mengubah strategi. Volkswagen dan Audi, yang sebelumnya sangat fokus pada BEV, kini mulai memasukkan EREV dalam rencana produk mereka.
Mereka menyiapkan lebih dari 20 model elektrifikasi baru pada 2026. Sebagian di antaranya adalah EREV. Ini sinyal penting bagi industri global.
Pasar tidak lagi hanya mengikuti idealisme teknologi. Pasar mulai mengikuti kebutuhan nyata konsumen.
Indonesia sendiri mulai menunjukkan sinyal awal. Changan sudah memberikan teaser Deepal S05. Model ini bukan hybrid biasa. Ia menggunakan sistem EREV.
Artinya arah perkembangan sudah mulai terlihat. Mengapa EREV mulai unggul? Jawabannya sederhana, tapi sebagian akan setuju.
Pertama, pengalaman berkendara yang sepenuhnya elektrik.
Tidak ada perpindahan gigi.
Tidak ada hentakan tenaga.
Semuanya halus seperti mobil listrik murni.
Kedua, kapasitas baterai yang semakin besar. Generasi terbaru EREV menggunakan baterai 30–50 kWh. Dengan kapasitas itu, mobil bisa menempuh 200–300 km hanya dengan listrik. Untuk penggunaan harian di kota seperti Jakarta, itu sudah lebih dari cukup.
Sebagian besar pengguna bahkan tidak perlu menggunakan bensin selama hari kerja. Mesin hanya aktif saat perjalanan jauh.
Ketiga, tidak bergantung penuh pada infrastruktur charging. Ini menjadi keunggulan utama di negara berkembang. EREV tetap bisa berjalan meski jaringan SPKLU belum merata. Karena selalu ada cadangan energi dari mesin bensin.
Lihat Juga :