Catat! Ini Penurunan Kapasitas Baterai Mobil Listrik Setiap Tahunnya

Kamis, 18 Juni 2026 - 22:02 WIB
loading...
Catat! Ini Penurunan...
Penurunan Kapasitas Baterai Mobil Listrik Setiap Tahunnya. Foto/ CNC
A A A
BEIJING - Tren kendaraan listrik sedang booming di Vietnam. Tidak hanya bisnis yang membeli mobil untuk layanan taksi dan transportasi penumpang, tetapi bahkan pembeli mobil individu dan keluarga pun semakin memilih kendaraan listrik.

Hal ini telah berkontribusi pada pertumbuhan pesat kendaraan listrik, yang kini menyumbang sekitar 30% dari penjualan mobil baru di Vietnam sejak awal tahun.

Selain faktor-faktor seperti biaya operasional rendah, ramah lingkungan, sistem pengisian daya, dan waktu pengisian, salah satu kekhawatiran terpenting bagi konsumen sebelum membeli kendaraan listrik adalah masa pakai baterai dan tingkat penurunan kapasitas seiring waktu.

Tidak seperti mobil bermesin pembakaran internal yang menggunakan bensin atau bahan bakar diesel, sistem baterai bertanggung jawab untuk memberi daya pada kendaraan listrik.

Paket baterai dianggap sebagai "jantung" mobil listrik dan juga merupakan komponen yang paling mahal. Oleh karena itu, tingkat degradasi baterai secara langsung memengaruhi jangkauan kendaraan, pengalaman pengguna, dan nilai jual kembali.

Sama seperti baterai pada ponsel, laptop, atau perangkat elektronik seluler lainnya, baterai mobil listrik juga akan mengalami degradasi secara bertahap seiring waktu. Saat ini, sebagian besar mobil listrik di pasaran menggunakan baterai lithium-ion yang mampu diisi dan dikosongkan berkali-kali. Namun, setelah setiap siklus pengisian daya, kapasitas baterai sebenarnya akan sedikit berkurang.

Menurut berbagai studi dan data dunia nyata dari produsen mobil, rata-rata tingkat penurunan kapasitas baterai pada kendaraan listrik berkisar antara 1-3% per tahun, tergantung pada kondisi penggunaan, teknologi baterai, dan pengoperasian pengguna.

Ini berarti bahwa setelah sekitar 5 tahun penggunaan, baterai kendaraan listrik mungkin masih mempertahankan sekitar 85-90% dari kapasitas aslinya. Setelah 8-10 tahun, banyak model kendaraan listrik masih mempertahankan kapasitas sekitar 70-80%.

Mahaendra Gofar, pendiri EVSafe, penyedia solusi stasiun pengisian kendaraan listrik komunitas di Indonesia, mengatakan: "Secara umum, penurunan kinerja baterai adalah hal normal, rata-rata sekitar 1-3% per tahun tergantung pada penggunaan dan kondisi kendaraan. Jumlah sel aktif yang menyimpan energi dalam paket baterai bisa sangat besar.

Beberapa paket baterai mengandung ratusan, bahkan ribuan sel, tergantung pada desain dan jenis baterai. Namun, tidak semua sel dalam paket baterai mengalami degradasi dengan kecepatan yang sama. Beberapa sel mengalami degradasi lebih cepat, sementara yang lain mengalami degradasi lebih lambat."

Menurut Mahaendra Gofar, degradasi bertahap baterai seiring waktu adalah proses alami yang terjadi pada baterai lithium-ion karena reaksi kimia berkelanjutan yang terjadi selama pengisian daya dan penggunaan kendaraan.

Saat kapasitas baterai menurun, efek yang paling terlihat adalah pengurangan jarak tempuh kendaraan per pengisian penuh. Misalnya, mobil listrik baru mungkin dapat menempuh jarak 500 km dengan sekali pengisian.

Setelah bertahun-tahun digunakan, ketika kapasitas baterai berada di sekitar 80%, jarak tempuh sebenarnya dapat berkurang menjadi sekitar 400 km.

Selain itu, degradasi baterai dapat menyebabkan waktu pengisian daya yang lebih lama, sedikit penurunan performa, atau penurunan akselerasi. Namun, efeknya biasanya bertahap, tidak mendadak seperti yang dikhawatirkan banyak orang.

Bahkan, banyak kendaraan listrik lawas di Eropa, AS, dan Tiongkok masih dapat beroperasi dengan andal setelah menempuh jarak lebih dari 200.000 km dengan kapasitas baterai yang relatif baik.

Faktor-faktor yang menyebabkan baterai mobil listrik cepat mengalami degradasi.
Tingkat degradasi baterai pada kendaraan listrik bergantung pada berbagai faktor, termasuk kondisi iklim dan kebiasaan mengemudi.

Salah satu penyebab umum degradasi baterai yang cepat adalah pengisian daya cepat DC berdaya tinggi yang sering dilakukan. Meskipun hal ini mempersingkat waktu pengisian, pengisian daya cepat terus-menerus dapat meningkatkan suhu baterai, mempercepat penuaan sel.

Selain itu, kebiasaan sering mengisi daya baterai hingga 100% atau membiarkannya benar-benar habis juga berdampak negatif pada masa pakai baterai. Banyak ahli merekomendasikan agar pengguna menjaga level baterai antara 20% dan 80% untuk mengoptimalkan daya tahannya.

Di Vietnam, iklim yang panas dan lembap juga memengaruhi baterai kendaraan listrik. Suhu lingkungan yang tinggi dapat membuat baterai kurang efisien, terutama jika kendaraan sering diparkir di luar ruangan di bawah sinar matahari yang terik dalam waktu lama.

Selain itu, pengoperasian terus menerus pada kecepatan tinggi, kelebihan beban, atau perawatan sistem pendingin baterai yang jarang juga dapat menyebabkan baterai lebih cepat rusak.

Namun, sebagian besar kendaraan listrik modern kini dilengkapi dengan sistem manajemen baterai (BMS) yang memantau kondisi setiap sel baterai. Sistem ini membantu menjaga suhu operasional, menyeimbangkan tegangan, dan mengatur distribusi arus untuk memastikan kinerja baterai yang optimal.

Oleh karena itu, meskipun kapasitas baterai akan menurun seiring waktu, laju degradasi sebenarnya relatif lambat dan masih dalam kendali produsen. Dengan penggunaan yang tepat, baterai kendaraan listrik dapat dengan mudah memenuhi kebutuhan operasional selama bertahun-tahun.
(wbs)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Dorong Ekosistem EV,...
Dorong Ekosistem EV, Wuling Berkolaborasi dengan Grab
Volkswagen Memangkas...
Volkswagen Memangkas Produksi Pabriknya di Jerman, Ini Pertimbangan
Larangan Perangkat Lunak...
Larangan Perangkat Lunak AS Bikin Susah Banyak Produsen Mobil
Xiaomi Kenalkan Tangan...
Xiaomi Kenalkan Tangan Robot untuk Pengisian Daya Baterai Mobil Listrik
Ford Batal Gunakan Baterai...
Ford Batal Gunakan Baterai LFP untuk Mobil Listriknya
Kasus Mobil Listrik...
Kasus Mobil Listrik Meledak Tinggi, Ahli Otomotif Angkat Bicara
Menguji Performa BYD...
Menguji Performa BYD M6 DM Terabas Jalanan Ibu Kota Jateng hingga Tol Semarang-Salatiga
MDLA Luncurkan Armada...
MDLA Luncurkan Armada Mobil Listrik, Dorong Transformasi Distribusi Rendah Emisi
Purbaya Tunda Insentif...
Purbaya Tunda Insentif Pajak Kendaraan Listrik Satu Bulan
Rekomendasi
Saleh Husin, Retno Marsudi,...
Saleh Husin, Retno Marsudi, Triawan Munaf, Tantowi Yahya, hingga Mari Pangestu Latihan Menuju UI Green Marathon
Buronan Kasus Penipuan...
Buronan Kasus Penipuan Bisnis Batu Bara Rp7 Miliar Ditangkap di Bandara Soetta
BI Rate Diprediksi Naik...
BI Rate Diprediksi Naik sampai 6%, Waspadai Risiko Kredit dan Daya Beli
Berita Terkini
Mitsubishi Pajero Targetkan...
Mitsubishi Pajero Targetkan Segmen yang Sama dengan Toyota Land Cruiser
Didukung TGRI, Eric...
Didukung TGRI, Eric Saputra Juara OMR Agya Mandalika
Perang Berdarah SUV...
Perang Berdarah SUV Listrik: Leapmotor B10 Masuk di Bawah Rp 500 Juta, Siapa Terjungkal?
Tak Mau Cuma Impor,...
Tak Mau Cuma Impor, Raksasa EV China Leapmotor Langsung Rakit B10 di Jawa Barat
Baterai Menyatu Rangka,...
Baterai Menyatu Rangka, Jok Jadi Kasur, Layar Dasbor 2.5K, Leapmotor B10 SUV China Rasa Eropa
Mengapa Proyek Tank...
Mengapa Proyek Tank MGCS Eropa Berisiko Gagal?
Infografis
Jakarta Gencar Bersih-bersih...
Jakarta Gencar Bersih-bersih Ikan Sapu-sapu, Ini Alasannya
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved