Apple Gandeng Intel Bikin Chip di AS: Apa Dampaknya buat Konsumen?

Jum'at, 19 Juni 2026 - 16:20 WIB
loading...
A A A
Kerja sama dengan Intel adalah salah satu cara Apple menambah pasokan. Lebih banyak kapasitas, harapannya, menekan tekanan harga.

Tapi ada catatan. Bikin chip di Amerika belum tentu lebih murah dari Taiwan. Bisa jadi malah lebih mahal. Kalau ongkos produksi naik, ujung-ujungnya bisa mampir juga ke label harga.

Dampak #2: pasokan lebih aman

Ini kabar baiknya. Selama produksi menumpuk di Taiwan, ada risiko. Ketegangan dengan Tiongkok. Gangguan pasokan. Kalau Taiwan terganggu, dunia kekurangan chip.

Dengan sebagian produksi pindah ke AS, risiko itu menyebar. Pasokan lebih tahan guncangan. Buat konsumen: lebih kecil peluang kelangkaan dan inden panjang.

Dampak #3: jangan harap cepat

Jangan terlalu girang dulu. Pertama, kesepakatan ini belum dikonfirmasi resmi oleh Apple maupun Intel.

Wall Street Journal menyebut kesepakatan awal sudah tercapai Mei lalu, setelah lebih dari setahun pembicaraan. Tapi cakupannya belum jelas. Trump pun tak menyebut chip jenis apa.

Kedua, teknologinya belum matang penuh. Proses 18A Intel baru di tahap produksi awal (risk production). Proses generasi berikutnya, 14A, baru diperkirakan produksi massal pada 2029 — pelanggan pertamanya Tesla.

Ketiga, bikin chip canggih itu rumit. Naik kelas produksi butuh bertahun-tahun penyempurnaan. Bisa molor.

Jadi: dampak ke harga dan produk di tangan konsumen tidak instan. Ini permainan jangka panjang.

Dampak #4: pertanyaan kualitas

Ada satu lagi yang diam-diam penting. M-series di TSMC terbukti bagus. Hemat daya. Kencang. Itu yang bikin MacBook laris.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Apple Terjun di Formula...
Apple Terjun di Formula 1, Begini Ekosistem Teknologinya
CEO Ford Sebut Xiaomi...
CEO Ford Sebut Xiaomi SU7 adalah Apple-nya China
Apple CarPlay Jadi idaman,...
Apple CarPlay Jadi idaman, Mobil Listrik Rivian Punya Pilih Tinggalkan
Ini Penyebab Xiaomi...
Ini Penyebab Xiaomi Lebih Unggul dari Apple dalam Bisnis Mobil Listrik
Apple Resmi Batalkan...
Apple Resmi Batalkan Semua Proyek Mobil Listrik Otonom
Bos Apple Muncul dalam...
Bos Apple Muncul dalam Iklan Porsche Taycan Turbo GT
Intel dan Nvidia Memulai...
Intel dan Nvidia Memulai Pertempuran Global Baru
Mengapa iPhone 11 Masih...
Mengapa iPhone 11 Masih Didukung iOS 27? Ini Jawabannya
Mengenal Siri AI di...
Mengenal Siri AI di WWDC 2026 dan Apa Saja Fitur Barunya?
Rekomendasi
Petani dan Pelaku UMKM...
Petani dan Pelaku UMKM Sumut, Riau, hingga Aceh Kirim Hasil Kerajinan Lidi ke China
Refly Harun Ungkap Dokter...
Refly Harun Ungkap Dokter Tifa Pakai Baju Tahanan atas Kesadaran Sendiri: Biar Dunia Tahu Kalau Kezaliman Terjadi
Jokowi dan PSI Dinilai...
Jokowi dan PSI Dinilai Satu Paket Politik, Ini Temuan Survei LPI
Berita Terkini
Mengapa Proyek Tank...
Mengapa Proyek Tank MGCS Eropa Berisiko Gagal?
Harga BBM Naik, Gunakan...
Harga BBM Naik, Gunakan iCAR V23 hanya Rp38 Ribu Seminggu
Apple Gandeng Intel...
Apple Gandeng Intel Bikin Chip di AS: Apa Dampaknya buat Konsumen?
Test Drive Leapmotor...
Test Drive Leapmotor B10 JakartaBandung: Pintar, Nyaman, tapi Ada Catatannya
Kawasaki Bikin Skutik?...
Kawasaki Bikin Skutik? Tiga Kejutan dari Booth PRJ 2026
BMW Mengkonfirmasi M3...
BMW Mengkonfirmasi M3 Generasi Berikutnya Tidak Akan Gunakan PHEV
Infografis
Apa Itu Dilema Malaka?...
Apa Itu Dilema Malaka? Strategi AS Cekik Minyak China, Berpotensi Seret Indonesia dalam Konflik
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved