Menakar Kesiapan Indonesia Menyambut Kehadiran Mobil Canggih di Masa Depan

Rabu, 28 September 2022 - 11:38 WIB
loading...
Menakar Kesiapan Indonesia...
Bus otonom sudah bisa digunakan oleh warga BSD, Serpong, Tangerang. Foto-foto/IST
A A A
JAKARTA - Industri otomotif dunia bergerak cepat ke arah masa depan dengan teknologi tingkat tinggi. Mobil otonom, taksi terbang, hingga mobil terbang bukan lagi sekadar bayangan.

Indonesia justru tidak ketinggalan. Teknologi mobil otonom bahkan sudah dirasakan oleh masyarakat BSD, Tangerang, Banten. Warga BSD khususnya yang berada di QBig BSD City, sudah bisa dapat menikmati bus listrik yang pengoperasiannya berjalan otomatis atau tanpa sopir.

Selain itu, di Indonesia juga sudah beredar mobil Tesla, yang juga memiliki kemampuan otonom. Di mana mobil tersebut dibekali teknologi otonom atau berjalan sendiri tapi tetap dengan pengawasan pengemudi.

Hanya saja sejauh mana teknologi itu diperlukan masyarakat Indonesia saat ini memang masih jadi tanda tanya? Mengenai tentang teknologi otonom, Bebin Djuana, pengamat otomotif mengatakan, teknologi seperti itu terlalu jauh dan terlalu kompleks untuk diterapkan di Indonesia.

Bebin berbicara demikian bukan tanpa alasan. Teknologi otonom sulit berkembang lantaran kesadaran akan disiplin berkendara di Indonesia masih sangat rendah.

"Terlalu jauh (untuk kendaraan otonom), kita harus memahami secara betul bahwa disiplin di jalan pengendara di negara kita itu sangat rendah, terlalu berbahaya," ucapnya.

Bebin menjelaskan, di negara yang tingkat disiplin berkendaranya sudah tinggi pun masih banyak kendala, termasuk kendala infrastuktur. Menurut Bebin, di Indonesia dua kendala tersebut masih ada yakni pengendara yang tidak disiplin dan infrastruktur yang belum mumpuni.



Menakar Kesiapan Indonesia Menyambut Kehadiran Mobil Canggih di Masa Depan


"kendaraan otonom saya pikir tetap tidak bijaksana, kalau berpikir maju iya, tapi kita harus liat apa yang ada di Negara kita," jelas Bebin.

Bebin memprediksi, mungkin di Indonesia baru bisa cocok dengan kendaraan otonom sekitar 20 atau 30 tahun kedepan. Karena, bukan waktu yang sebentar untuk membenahi tingkat disiplin dalam berkendara.

Mengenai mobil-mobil masa depan, Bebin melihat saat ini ada dua aliran yang cukup mencolok. Pertama yakni kendaraan listrik dengan berbagai macam pengembangannya.

Bila dilihat dari sisi global, perkembangan kendaraan listrik saat ini cukup pesat. Tapi, untuk mengembangkan industrinya, ada beberapa faktor harus diperhatikan, yakni infrastruktur dan investasi yang cukup besar.

Kemudian, aliran yang kedua yakni mobil yang memanfaatkan gas hidrogen. Mengenai mobil tersebut, Bebin cenderung tidak begitu setuju, karena banyak yang perlu dibenahi dan terlalu berisiko.

"Saya kok tidak cenderung negara kita memilih yang itu, karena biaya mengelola gas hidrogen itu mahal, cara mendistribusikannya tidak mudah, untuk mengurainya itu mahal sekali, dan ketika kita tidak berhati-hati, itu gas hidrogen juga mudah meledak," ungkap Bebin.

Karena sejumlah faktor tersebut, Bebin mengaku cenderung tidak memilih alternatif bahan bakar Hidrogen untuk di Indonesia. Terlebih Indonesia merupakan negara kepulauan. Bebin menilai faktor tersebut juga berpengaruh pada kesulitan pendistribusian gas hidrogen.



Beralih kembali ke kendaraan listrik, Bebin mengakui bahwa memang kendaraan listrik di Indonesia masih mahal. Hal tersebut dipicu oleh baterai.

"Itu (Baterai) yang belum bisa diatasi, untuk skala dunia pun masih belum bisa diatasi, dan ini teknologinya terus dikembangkan, masih mencari alternatif bahan baterai yang baru, supaya bisa mendapatkan kualitas yang diharapkan," jelas Bebin.

Kualitas yang dimaksud oleh Bebin, dalam artian yakni waktu charging yang semakin singkat, tidak terjadi kenaikan suhu ketika charging, kemampuan menyimpan listrik, dan jarak tempuhnya lebih jauh. Kualitas-kualitas tersebut lah yang tengah dikejar oleh para produsen kendaraan.

Mengenai soal daya tahan baterai, saat ini Bebin melihat sudah ada yang bisa menjamin bahwa usia baterai di atas 8 tahun. Harganya pun tiap tahunnya semakin murah.

"Dibanding 10 tahun yang lalu sudah turun sekitar 80%, jadi harga baterai 10 tahun yang lalu itu tiga kali lipat lebih mahal dari sekarang, makannya sekarang kendaraan-kendaran yang harganya masih cukup tinggi sudah bisa menjangkau diatas 600 km per charging, dulu harga segitu baru 300 k," kata Bebin.

Lantas kapan harga mobil listrik dan baterai di Indonesia bisa lebih terjangkau? Mengenai hal tersebut, Bebin mengatakan, hal itu akan terjadi apabila semakin banyak pabrik yang memproduksi baterai hadir di Indonesia.

"Ketika pabrik baterai sudah beropreasi, sekitar dua tahun lagi, jelas itu akan membantu dari sisi harga. karena ketika sudah berproduksi dan yang bisa memanfaatkan produk dari baterai itu kan cukup luas, dari mulai kendaraan pribadi maupun komersil," tutupnya.
(wsb)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Jadi Sasaran Serangan,...
Jadi Sasaran Serangan, Pabrik Tesla Sediakan Tempat Bersembunyi Karyawan
Tarif Impor Trump Jadi...
Tarif Impor Trump Jadi Mimpi Buruk Industri Otomotif China
Aksi Anti Tesla Meluas,...
Aksi Anti Tesla Meluas, Keamanan Pemilik dan Karyawan Semakin Terancam
Porsche Luncurkan Proyek...
Porsche Luncurkan Proyek Percontohan Daur Ulang Baterai Tegangan Tinggi
Elon Musk Minta Dalang...
Elon Musk Minta Dalang Pengrusakan Dealer Tesla Ditangkap, Sebut Aksi Protes Sebagai Terorisme Domestik Skala Luas!
Protes Anti-Elon Musk...
Protes Anti-Elon Musk Mengguncang Dealer Tesla di Seluruh Dunia!
Tantangan Produsen Mobil...
Tantangan Produsen Mobil Listrik China di Asia Tenggara: Realitas vs. Ambisi
Pabrik Hyundai di Georgia...
Pabrik Hyundai di Georgia Siap Produksi Ioniq 9 Tepat Waktu
China Siap Aliri Energi...
China Siap Aliri Energi dari Luar Angkasa ke Mobil Listrik
Rekomendasi
KAI Group Angkut 16,3...
KAI Group Angkut 16,3 Juta Penumpang Selama Angkutan Lebaran 2025
Chip AI Jadi Senjata...
Chip AI Jadi Senjata China untuk Melawan AS Terkait Tarif Impor Baru
Bolehkah Salat ketika...
Bolehkah Salat ketika Keluar Flek Cokelat sebelum Haid?
Kurangi Macet Arus Balik,...
Kurangi Macet Arus Balik, Tol Japek II Selatan Gratis hingga Deltamas
Titus The Detective...
Titus The Detective Eps Poisoned Chocolate, Minggu 6 April 2025 Jam 07.30 WIB di RCTI
Jenazah Ray Sahetapy...
Jenazah Ray Sahetapy Tiba di Masjid Istiqlal untuk Disalatkan
Berita Terkini
BYD Salip Tesla di Eropa,...
BYD Salip Tesla di Eropa, Penjualan di Q1 2025 Naik 60 Persen
21 menit yang lalu
Toyota GR Supra Final...
Toyota GR Supra Final Edition Bakal Jadi Model Perpisahan
38 menit yang lalu
Jadi Sasaran Serangan,...
Jadi Sasaran Serangan, Pabrik Tesla Sediakan Tempat Bersembunyi Karyawan
2 jam yang lalu
Kanada Balas Trump dengan...
Kanada Balas Trump dengan Tarif Baru untuk Mobil Buatan AS
4 jam yang lalu
Kanada Protes Soal Tarif...
Kanada Protes Soal Tarif Impor Otomotif AS, Ini Alasannya
5 jam yang lalu
Pabrikan Senjata Api...
Pabrikan Senjata Api AK 47 Kembali Produksi Motor Berwarna Pink?
7 jam yang lalu
Infografis
5 Teknologi Canggih...
5 Teknologi Canggih Masjidilharam, Salah Satunya Robot Panduan
Copyright ©2025 SINDOnews.com All Rights Reserved