Perempuan Indonesia 27 Tahun Jadi Sopir Bus di Jepang: Bagaimana Ia Lolos Seleksi Ketat Tokyu Bus?
Jum'at, 03 Juli 2026 - 20:52 WIB
Sebelum hari pertama bertugas, Mahatmi bahkan menyusuri rute busnya dengan berjalan kaki untuk menghafalnya. Hasilnya tidak sia-sia. Penumpang mulai memberinya pujian: "Remnya halus" dan "Suaranya menenangkan."
Kenji Kawamata, kepala depo tempat Mahatmi bertugas, menilai kinerja Mahatmi positif. "Saya berharap ia akan menjadi sopir bus yang dipercaya dan membuat penumpang merasa nyaman," ujar Kawamata.
Pemerintah Jepang menargetkan penerimaan sekitar 22.100 pekerja asing di sektor transportasi otomotif hingga akhir Maret 2029, dengan izin tinggal hingga lima tahun.
Per akhir Mei 2026, sudah ada 26 sopir asing pemegang status SSW yang aktif bertugas di kawasan Tokyo, Hokkaido, Hiroshima, dan daerah lain.
Tokyu Bus sendiri menargetkan rekrutmen 100 sopir baru per tahun, dengan sekitar 10 persen di antaranya adalah pekerja asing pemegang SSW.
Grup pertama — termasuk Mahatmi — sudah ditempatkan di depo. Grup kedua yang terdiri dari tiga sopir Indonesia dan satu sopir Nepal sedang menunggu penempatan. Dua anggota grup ketiga dari Nepal sedang dalam proses memperoleh SIM besar kelas 2.
Perusahaan menyatakan kehadiran pekerja asing berdampak luas ke dalam. "Melihat mereka bekerja keras di negara asing memberikan pengaruh positif pada sopir Jepang kami juga. Karena ada persepsi kuat bahwa sopir bus identik dengan pria Jepang, penting bagi kami untuk merekrut perempuan dan pekerja asing seiring memburuknya kekurangan tenaga kerja," demikian pernyataan resmi Tokyu Bus.
Kenji Kawamata, kepala depo tempat Mahatmi bertugas, menilai kinerja Mahatmi positif. "Saya berharap ia akan menjadi sopir bus yang dipercaya dan membuat penumpang merasa nyaman," ujar Kawamata.
Krisis Sopir Bus dan Solusi dari Indonesia
Di balik kisah Mahatmi ada masalah struktural yang serius. Tokyo Bus, operator yang beroperasi di Okinawa, mengaku memiliki sekitar 100 unit bus yang tidak bisa beroperasi akibat kekurangan sopir. Rekrutmen pekerja asing kini menjadi salah satu solusi utama.Pemerintah Jepang menargetkan penerimaan sekitar 22.100 pekerja asing di sektor transportasi otomotif hingga akhir Maret 2029, dengan izin tinggal hingga lima tahun.
Per akhir Mei 2026, sudah ada 26 sopir asing pemegang status SSW yang aktif bertugas di kawasan Tokyo, Hokkaido, Hiroshima, dan daerah lain.
Tokyu Bus sendiri menargetkan rekrutmen 100 sopir baru per tahun, dengan sekitar 10 persen di antaranya adalah pekerja asing pemegang SSW.
Grup pertama — termasuk Mahatmi — sudah ditempatkan di depo. Grup kedua yang terdiri dari tiga sopir Indonesia dan satu sopir Nepal sedang menunggu penempatan. Dua anggota grup ketiga dari Nepal sedang dalam proses memperoleh SIM besar kelas 2.
Perusahaan menyatakan kehadiran pekerja asing berdampak luas ke dalam. "Melihat mereka bekerja keras di negara asing memberikan pengaruh positif pada sopir Jepang kami juga. Karena ada persepsi kuat bahwa sopir bus identik dengan pria Jepang, penting bagi kami untuk merekrut perempuan dan pekerja asing seiring memburuknya kekurangan tenaga kerja," demikian pernyataan resmi Tokyu Bus.
Lihat Juga :