Penggunaan Internet pada Anak Picu Cyber Violence
Selasa, 28 Juli 2020 - 15:01 WIB
loading...
A
A
A
Anak-anak dan remaja yang berada dalam pengasuhan alternatif, dan remaja yang sudah siap hidup mandiri, serta para pekerja sosial yang fokus dalam hak pengasuhan ini, akan berbagi pengalaman tentang kehidupan mereka di tengah pandemi ini. Perwakilan dari badan pemerintahan dan kelompok masyarakat sipil di negara-negara Asia Tenggara akan membagikan contoh-contoh tanggapan dan pengelolaan krisis saat pandemi di negara masing-masing.
Anak-anak dan remaja telah menghadapi tekanan fisik dan mental yang sangat besar, seperti kurangnya akses untuk pendidikan, layanan dari pemerintah, dan partisipasi dalam aktivitas yang terkait dengan kehidupan mereka. Sedangkan untuk para remaja yang berada dalam masa transisi untuk hidup mandiri, kehilangan pekerjaan dan tempat tinggal juga menjadi tantangan tambahan yang mereka hadapi.
Pandemi COVID-19 ini telah meningkatkan banyak risiko dan kerentanan pada anak-anak dan remaja di dunia. Bank Dunia (World Bank) memperkirakan, lebih dari 60 juta orang di 100 negara akan mengalami kemiskinan ekstrim, yang menghalangi tujuan dari tindakan-tindakan pengurangan kemiskinan dan program-program pengembangan lain yang sudah dilaksanakan sebelumnya.
Setiap negara memiliki tingkat kesiapan dan tanggapan masing-masing terhadap COVID-19. Di wilayah Asia Tenggara yang beragam ini, beberapa negara memiliki kesiapan yang lebih baik dari negara lainnya. Beberapa negara, dengan mengagumkan, dapat mengelola penyebaran COVID-19 seminimal mungkin. Bagaimana setiap negara menunjuk konsekuensi sosial-ekonomi dari pandemi ini sebagai unsur yang sangat penting dalam proses pemulihan? Untuk menganggapi hal tersebut, hak anak-anak yang telah atau terancam kehilangan pengasuhan orang tua perlu dipertimbangkan, dengan semangat tidak meninggalkan siapapun.
Anak-anak dan remaja telah menghadapi tekanan fisik dan mental yang sangat besar, seperti kurangnya akses untuk pendidikan, layanan dari pemerintah, dan partisipasi dalam aktivitas yang terkait dengan kehidupan mereka. Sedangkan untuk para remaja yang berada dalam masa transisi untuk hidup mandiri, kehilangan pekerjaan dan tempat tinggal juga menjadi tantangan tambahan yang mereka hadapi.
Pandemi COVID-19 ini telah meningkatkan banyak risiko dan kerentanan pada anak-anak dan remaja di dunia. Bank Dunia (World Bank) memperkirakan, lebih dari 60 juta orang di 100 negara akan mengalami kemiskinan ekstrim, yang menghalangi tujuan dari tindakan-tindakan pengurangan kemiskinan dan program-program pengembangan lain yang sudah dilaksanakan sebelumnya.
Setiap negara memiliki tingkat kesiapan dan tanggapan masing-masing terhadap COVID-19. Di wilayah Asia Tenggara yang beragam ini, beberapa negara memiliki kesiapan yang lebih baik dari negara lainnya. Beberapa negara, dengan mengagumkan, dapat mengelola penyebaran COVID-19 seminimal mungkin. Bagaimana setiap negara menunjuk konsekuensi sosial-ekonomi dari pandemi ini sebagai unsur yang sangat penting dalam proses pemulihan? Untuk menganggapi hal tersebut, hak anak-anak yang telah atau terancam kehilangan pengasuhan orang tua perlu dipertimbangkan, dengan semangat tidak meninggalkan siapapun.
(wbs)
Lihat Juga :