Biodiesel Jadi Alternatif Mengurangi Emisi Karbon
Senin, 19 Mei 2025 - 12:14 WIB
loading...
Biodiesel jadi bahan bakar altenatif pengganti bahan bakar fosil. FOTO/ Ilustrasi
A
A
A
JAKARTA - Di tengah gempuran teknologi kendaraan listrik, bioetanol muncul sebagai alternatif menarik yang patut diperhitungkan.
Bioetanol dan kendaraan listrik bukanlah pesaing, melainkan solusi komplementer dalam mencapai tujuan bersama, yaitu mengurangi emisi dan mencapai kemandirian energi.
Oleh karenanya, Ketua Umum SPKS, Sabarudin berharap pemerintah, melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), dapat menyempurnakan regulasi yang ada dengan mewajibkan perusahaan-perusahaan penerima subsidi biodiesel untuk bermitra langsung dengan petani.
Dengan pola kemitraan yang adil, menurutnya petani akan memiliki akses pasar yang lebih baik dan memperoleh harga jual yang lebih layak.
"Model kemitraan petani dengan perusahaan yang menerima subsidi ini akan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap tengkulak yang selama ini merugikan petani hingga 30–40 persen dari harga acuan pemerintah," ujar Sabarudin.
Selain mendorong kemitraan, SPKS juga mengusulkan agar koperasi petani diberi ruang untuk ikut menjadi penyedia resmi Bahan Bakar Nabati (BBN).
Seperti diketahui, Biodiesel adalah bahan bakar pengganti solar yang diproduksi di dalam negeri, ramah lingkungan, dan terbarukan.
Penggunaan biodiesel sebagai bahan bakar kendaraan dapat meningkatkan kesehatan masyarakat dan lingkungan, memberikan manfaat keselamatan, dan berkontribusi pada sistem transportasi yang tangguh.
Sektor transportasi merupakan sumber emisi gas rumah kaca terbesar di Amerika Serikat. Transisi yang berhasil menuju transportasi bersih akan memerlukan berbagai solusi kendaraan dan bahan bakar serta harus mempertimbangkan emisi siklus hidup.
Mesin yang diproduksi pada tahun 2010 dan setelahnya harus memenuhi standar emisi yang sama, baik yang menggunakan biodiesel, solar, atau bahan bakar alternatif lainnya.
Teknologi reduksi katalitik selektif (SCR) pada kendaraan diesel, yang mengurangi emisi nitrogen oksida (NOx) hingga mendekati nol, memungkinkan hal ini. Kriteria emisi polutan udara dari mesin yang menggunakan bahan bakar solar sebanding dengan emisi dari campuran biodiesel.
Penggunaan biodiesel mengurangi emisi siklus hidup karena karbon dioksida yang dilepaskan dari pembakaran biodiesel diimbangi oleh karbon dioksida yang diserap dari kacang kedelai yang tumbuh atau bahan baku lain yang digunakan untuk memproduksi bahan bakar tersebut.
Bioetanol dan kendaraan listrik bukanlah pesaing, melainkan solusi komplementer dalam mencapai tujuan bersama, yaitu mengurangi emisi dan mencapai kemandirian energi.
Oleh karenanya, Ketua Umum SPKS, Sabarudin berharap pemerintah, melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), dapat menyempurnakan regulasi yang ada dengan mewajibkan perusahaan-perusahaan penerima subsidi biodiesel untuk bermitra langsung dengan petani.

Dengan pola kemitraan yang adil, menurutnya petani akan memiliki akses pasar yang lebih baik dan memperoleh harga jual yang lebih layak.
"Model kemitraan petani dengan perusahaan yang menerima subsidi ini akan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap tengkulak yang selama ini merugikan petani hingga 30–40 persen dari harga acuan pemerintah," ujar Sabarudin.
Selain mendorong kemitraan, SPKS juga mengusulkan agar koperasi petani diberi ruang untuk ikut menjadi penyedia resmi Bahan Bakar Nabati (BBN).
Seperti diketahui, Biodiesel adalah bahan bakar pengganti solar yang diproduksi di dalam negeri, ramah lingkungan, dan terbarukan.
Penggunaan biodiesel sebagai bahan bakar kendaraan dapat meningkatkan kesehatan masyarakat dan lingkungan, memberikan manfaat keselamatan, dan berkontribusi pada sistem transportasi yang tangguh.
Sektor transportasi merupakan sumber emisi gas rumah kaca terbesar di Amerika Serikat. Transisi yang berhasil menuju transportasi bersih akan memerlukan berbagai solusi kendaraan dan bahan bakar serta harus mempertimbangkan emisi siklus hidup.
Mesin yang diproduksi pada tahun 2010 dan setelahnya harus memenuhi standar emisi yang sama, baik yang menggunakan biodiesel, solar, atau bahan bakar alternatif lainnya.
Teknologi reduksi katalitik selektif (SCR) pada kendaraan diesel, yang mengurangi emisi nitrogen oksida (NOx) hingga mendekati nol, memungkinkan hal ini. Kriteria emisi polutan udara dari mesin yang menggunakan bahan bakar solar sebanding dengan emisi dari campuran biodiesel.
Penggunaan biodiesel mengurangi emisi siklus hidup karena karbon dioksida yang dilepaskan dari pembakaran biodiesel diimbangi oleh karbon dioksida yang diserap dari kacang kedelai yang tumbuh atau bahan baku lain yang digunakan untuk memproduksi bahan bakar tersebut.
(wbs)
Lihat Juga :