Rusia Dihukum Tak Bisa Lagi Menikmati Mobil-mobil Supermewah

Selasa, 15 Maret 2022 - 05:52 WIB
loading...
Rusia Dihukum Tak Bisa Lagi Menikmati Mobil-mobil Supermewah
Oligarki Rusia (ki-ka) seperti Alisher Usmanov, Vladimir Putin, dan Yevgeny Prighozin tidak akan bisa menikmati barang-barang supermewah lagi seperti mobil dan yacht. Foto/IST
A A A
RUSIA - Uni Eropa tengah berencana menambah sanksi baru kepada Rusia atas invasi di Ukraina. Yang terbaru adalah melarang ekspor mobil-mobil supermewah ke Rusia.

Disebutkan MSN, dalam rencana itu mobil-mobil yang harganya mencapai USD54.760 atau setara Rp782,2 juta ke atas tidak diizinkan masuk ke negara yang dipimpin Vladimir Putin.

Direncanakan kebijakan itu akan segera berlaku mulai Senin (14/3/2022). Uni Eropa meminta berbagai pabrikan mobil mewah seperti Audi, BMW, Mercedes, Ferrari, dam Porsche menaati keputusan itu.

Baca juga : Rod Stewart Perbaiki Jalan Berlubang karena Tak Bisa Dilewati Ferrari Miliknya

Rusia Dihukum Tak Bisa Lagi Menikmati Mobil-mobil Supermewah


Menariknya, mereka juga tidak hanya melarang mobil-mobil supermewah masuk ke Rusia. Peraturan itu jua berlaku untuk barang-barang supermewah lainnya seperti motor-motor di harga 5.000 Euro (Rp78,2 juta) ke atas, yacht, dan pesawat.

Imbauan itu juga jadi upaya mempertegas sanksi pengasingan yang telah terjadi belakangan ini. Beberapa pabrikan mobil Eropa seperti Mercedes-Benz, BMW, Porsche, dan Audi memang telah lebih dulu memutuskan tidak berjualan di Rusia.

Baca juga : Cuma 1 Model Kebagian Insentif PPnBM, Mitsubishi Jalankan Strategi Khusus

Keputusan Uni Eropa itu memang jadi pukulan buat orang-orang superkaya di Rusia. Oligarki di negara komunis itu termasuk rajin membeli mobil-mobil supermewah terbaru karena dianggap simbol kesuksesan.

Rusia sendiri menurut Bloomberg menyumbang 2 persen dari penjualan mobil-mobil supermewah di tingkat global. “Mengingat daftar pesanan yang kuat untuk semua merek premium, saya berharap setiap ekspor yang hilang ke Rusia akan dialihkan ke pasar lain,” kata analis Bloomberg Intelligence Michael Dean.
(wsb)
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.2635 seconds (11.252#12.26)