Kepercayaan Publik Anjlok, Bisakah Facebook Bertahan?
Selasa, 30 Juni 2020 - 07:09 WIB
loading...
A
A
A
Facebook berupaya berdiskusi dengan berbagai organisasi dalam menangkal isu ini secara bersama-sama. Namun, apakah upaya ini bisa dilakukan dan efektif membangun kepercayaan lagi ke Facebook? Jika kampanye negatif ini terus bergulir hingga ranah global, bukan tidak mungkin Facebook akan masuk di ambang kehancuran.
Sebelumnya, sejumlah tokoh dunia juga mulai meninggalkan media sosial (medsos), termasuk Facebook. Banyak alasan yang melatar belakangi keputusan mereka. Namun, sebagian besar mengatakan Facebook dan Twitter sarat dengan konten kebencian dan provokasi.
Terbaru, bintang film Star Wars, Mark Hamill, menghapus akun Facebook setelah kecewa dengan kebijakan advertorial politik layanan jejaring sosial terbesar di dunia itu. Dia juga mengkritik Chief Executive Officer (CEO) Facebook Mark Zuckerberg lebih mementingkan keuntungan dibandingkan kebenaran.
Kolom advertorial Facebook, tuduh Hamill, menjadi sarang kampanye tidak sehat para politisi di Amerika Serikat (AS) menjelang kontes politik tahun ini. Dia mendesak platform yang diciptakan pada 2004 dan mulai populer di dunia pada 2008 itu mengambil tindakan demi mencegah kampanye negatif di dunia maya. Namun, Facebook mengabaikannya dan tetap mempertahankan kebijakan sebelumnya.
Pada Maret 2019, CEO Air Asia Tony Fernandez juga melakukan hal serupa. Penutupan akun bos maskapai low cost carrier (LCC) itu sebagai wujud protes atas kejadian penembakan di sebuah masjid di Kota Christchurch, Selandia Baru, yang menewaskan 49 orang. Pelaku melakukan aksinya dengan mengunggah video di Face book melalui live streaming. Tak hanya Facebook, Tony menghapus akun media sosialnya di platform Twitter dengan 1,3 juta pengikut. (Baca juga: Facebook Uji Integrasi Wikipedia ke Hasil Pencariannya)
Tony menilai platform yang dikenal dengan logo burung biru itu hanya menjadi tempat untuk menumpahkan kemarahan. “Media sosial telah menjadi tempat amarah,” katanya dikutip The Star. Tony kini hanya menggunakan platform Instagram dan LinkedIn.
Sebelumnya, sejumlah tokoh dunia juga mulai meninggalkan media sosial (medsos), termasuk Facebook. Banyak alasan yang melatar belakangi keputusan mereka. Namun, sebagian besar mengatakan Facebook dan Twitter sarat dengan konten kebencian dan provokasi.
Terbaru, bintang film Star Wars, Mark Hamill, menghapus akun Facebook setelah kecewa dengan kebijakan advertorial politik layanan jejaring sosial terbesar di dunia itu. Dia juga mengkritik Chief Executive Officer (CEO) Facebook Mark Zuckerberg lebih mementingkan keuntungan dibandingkan kebenaran.
Kolom advertorial Facebook, tuduh Hamill, menjadi sarang kampanye tidak sehat para politisi di Amerika Serikat (AS) menjelang kontes politik tahun ini. Dia mendesak platform yang diciptakan pada 2004 dan mulai populer di dunia pada 2008 itu mengambil tindakan demi mencegah kampanye negatif di dunia maya. Namun, Facebook mengabaikannya dan tetap mempertahankan kebijakan sebelumnya.
Pada Maret 2019, CEO Air Asia Tony Fernandez juga melakukan hal serupa. Penutupan akun bos maskapai low cost carrier (LCC) itu sebagai wujud protes atas kejadian penembakan di sebuah masjid di Kota Christchurch, Selandia Baru, yang menewaskan 49 orang. Pelaku melakukan aksinya dengan mengunggah video di Face book melalui live streaming. Tak hanya Facebook, Tony menghapus akun media sosialnya di platform Twitter dengan 1,3 juta pengikut. (Baca juga: Facebook Uji Integrasi Wikipedia ke Hasil Pencariannya)
Tony menilai platform yang dikenal dengan logo burung biru itu hanya menjadi tempat untuk menumpahkan kemarahan. “Media sosial telah menjadi tempat amarah,” katanya dikutip The Star. Tony kini hanya menggunakan platform Instagram dan LinkedIn.
Lihat Juga :