Kepercayaan Publik Anjlok, Bisakah Facebook Bertahan?

Selasa, 30 Juni 2020 - 07:09 WIB
loading...
Kepercayaan Publik Anjlok,...
CEO Facebook Mark Zukerberg. Foto/Reuters
A A A
NEW YORK - Facebook tak henti-henti menghadapi prahara. Terakhir, media sosial paling populer di dunia ini tengah menghadapi dugaan sebagai platform sarang ujaran kebencian dan berita palsu. Kepercayaan terhadap Facebook pun kian redup. Bahkan, sejumlah perusahaan raksasa Amerika Serikat (AS) memutuskan untuk boikot. The Coca-Cola Company, Unilever, hingga Honda Motor Company Ltd menangguhkan pemasangan iklan di platform ini.

Perang terhadap Facebook antara lain dilakukan Koalisi Anti-Defamation League (ADL) dan NAACP yang meluncurkan kampanye #StopHateforProfit pada pekan lalu. Saat itu mereka mendesak perusahaan besar untuk berhenti memasang iklan di Facebook sebagai bentuk perlawanan terhadap tingginya sirkulasi berita palsu dan ujaran kebencian, terutama di AS.

Berselang beberapa hari, sejumlah perusahaan memutuskan untuk turut serta dalam kampanye #StopHateforProfit. Beberapa di antaranya Coca-Cola, Honda, dan Unilever. Disusul Upwork dan Dashlane. Starbucks, pengiklan terbesar ke enam Facebook, juga menghentikan pemasangan iklan di Facebook.

Perusahaan lain yang ikut menghentikan penayangan iklan di Facebook ialah Arc’teryx, Ben & Jerry’s, Beam Suntory, REI, Edie Bauer, Eileen Fisher, Hershey’s, The North Face, Jan Sport, Levi Strauss, Magnolia Pictures, Patagonia, dan Verizon. Sebagian dari mereka juga mencabut pemasangan iklan di Instagram. Akibat pencopotan iklan ini Facebook mendapat sentimen negatif. Harga sahamnya anjlok. Kekayaan CEO Facebook Mark Zuckerberg pun hilang sekitar 100 triliun. Meski kehilangan kekayaan sebesar itu, Mark tetap memiliki jumlah kekayaan USD82,3 miliar atau sekitar Rp1.170 triliun. (Baca: Facebook Hapus Puluhan Iklan Donald trump yang Berisi Ujaran Kebencian)

Facebook tak berdaya dengan keputusan sepihak ini. Pil pahit terpaksa harus mereka telan lagi. Tepat sekitar setahun lalu Facebook dihukum oleh Komisi Perdagangan Federal AS dengan membayar uang denda Rp70 triliun karena kasus kebocoran data penggunanya.

“Kami sangat menghargai keputusan setiap perusahaan dan tetap fokus dalam tugas penting kami, yakni menghapus ujaran kebencian,” ujar Wakil Presiden Global Business Facebook Carolyn Everson, dikutip CNN.

Facebook berupaya berdiskusi dengan berbagai organisasi dalam menangkal isu ini secara bersama-sama. Namun, apakah upaya ini bisa dilakukan dan efektif membangun kepercayaan lagi ke Facebook? Jika kampanye negatif ini terus bergulir hingga ranah global, bukan tidak mungkin Facebook akan masuk di ambang kehancuran.

Sebelumnya, sejumlah tokoh dunia juga mulai meninggalkan media sosial (medsos), termasuk Facebook. Banyak alasan yang melatar belakangi keputusan mereka. Namun, sebagian besar mengatakan Facebook dan Twitter sarat dengan konten kebencian dan provokasi.

Terbaru, bintang film Star Wars, Mark Hamill, menghapus akun Facebook setelah kecewa dengan kebijakan advertorial politik layanan jejaring sosial terbesar di dunia itu. Dia juga mengkritik Chief Executive Officer (CEO) Facebook Mark Zuckerberg lebih mementingkan keuntungan dibandingkan kebenaran.

Kolom advertorial Facebook, tuduh Hamill, menjadi sarang kampanye tidak sehat para politisi di Amerika Serikat (AS) menjelang kontes politik tahun ini. Dia mendesak platform yang diciptakan pada 2004 dan mulai populer di dunia pada 2008 itu mengambil tindakan demi mencegah kampanye negatif di dunia maya. Namun, Facebook mengabaikannya dan tetap mempertahankan kebijakan sebelumnya.
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Misterius, Lamborghini...
Misterius, Lamborghini Hapus Nyaris Semua Foto di Instagram Kecuali 3 Mobil
BMW M Habis-habisan...
BMW M Habis-habisan Kena Bully karena Minta Pendapat di Facebook
Adu Populer Mobil Indonesia...
Adu Populer Mobil Indonesia di Dunia Maya, Nissan Kalahkan Toyota
Cegah Protes Trump,...
Cegah Protes Trump, Facebook Perpanjang Larangan Iklan Politik
Mark Zuckerberg dan...
Mark Zuckerberg dan Istri Berikan Donasi Lagi Rp1,476 Triliun untuk Pemilu AS
Facebook Beri Rp12,5...
Facebook Beri Rp12,5 M ke UKM, Ini Cara Mendapatkannya
Facebook Tersinggung...
Facebook Tersinggung dengan Tayangan Film The Social Dilemma
Lewat Instagram, Facebook...
Lewat Instagram, Facebook Dituding Memata-matai Penggunanya
Lampaui Mark Zuckerberg,...
Lampaui Mark Zuckerberg, Elon Musk Jadi Orang Terkaya Ketiga di Dunia
Rekomendasi
KAI Group Angkut 16,3...
KAI Group Angkut 16,3 Juta Penumpang Selama Angkutan Lebaran 2025
Bolehkah Salat ketika...
Bolehkah Salat ketika Keluar Flek Cokelat sebelum Haid?
Titus The Detective...
Titus The Detective Eps Poisoned Chocolate, Minggu 6 April 2025 Jam 07.30 WIB di RCTI
Kurangi Macet Arus Balik,...
Kurangi Macet Arus Balik, Tol Japek II Selatan Gratis hingga Deltamas
Jenazah Ray Sahetapy...
Jenazah Ray Sahetapy Tiba di Masjid Istiqlal untuk Disalatkan
Chip AI Jadi Senjata...
Chip AI Jadi Senjata China untuk Melawan AS Terkait Tarif Impor Baru
Berita Terkini
BYD Salip Tesla di Eropa,...
BYD Salip Tesla di Eropa, Penjualan di Q1 2025 Naik 60 Persen
36 menit yang lalu
Toyota GR Supra Final...
Toyota GR Supra Final Edition Bakal Jadi Model Perpisahan
52 menit yang lalu
Jadi Sasaran Serangan,...
Jadi Sasaran Serangan, Pabrik Tesla Sediakan Tempat Bersembunyi Karyawan
2 jam yang lalu
Kanada Balas Trump dengan...
Kanada Balas Trump dengan Tarif Baru untuk Mobil Buatan AS
4 jam yang lalu
Kanada Protes Soal Tarif...
Kanada Protes Soal Tarif Impor Otomotif AS, Ini Alasannya
5 jam yang lalu
Pabrikan Senjata Api...
Pabrikan Senjata Api AK 47 Kembali Produksi Motor Berwarna Pink?
7 jam yang lalu
Infografis
Penjualan Mobil Anjlok,...
Penjualan Mobil Anjlok, Volkswagen akan Produksi Senjata
Copyright ©2025 SINDOnews.com All Rights Reserved