Teknologi Kereta Supersonik Diragukan Bisa Beroperasi

Senin, 23 November 2020 - 17:33 WIB
loading...
Teknologi Kereta Supersonik Diragukan Bisa Beroperasi
Virgin Hyperloop saat diujicoba di Las Vegas beberapa waktu lalu. Saat itu Virgin Hyperloop mampu berlari hingga 165 kilometer per jam dalam jarak 500 meter. Foto / IST
A A A
JAKARTA - Teknologi kereta supersonik , hyperloop diragukan bisa beroperasi oleh beberapa pihak. Diketahui, baru-baru ini teknologi kereta supersonik, hyperloop, mengemuka lagi ketika Virgin Hyperloop sukses melakukan uji coba di Nevada, Amerika Serikat. Selain Virgin Hyeperloop, sebuah institusi dari Korea Selatan juga mengklaim berhasil mengujicoba hyperloop.

Meski berhasil melakukan ujicoba, banyak yang meragukan teknologi kereta supersonik itu akan mampu terealisasi. Dua faktor yang paling menghambat adalah biaya dan kecepatan yang diraih oleh hyperloop itu sendiri. (Baca juga : Transportasi Supersonik Virgin Hyperloop Diuji Coba, Cuma Capai 165 Kilometer per Jam )

Roger Goodall, Professor dari Loughborough University mengaku terkejut dengan respons berlebihan terhadap teknologi hyperloop seperti yang dimiliki Virgin Hyperloop. Dia mengatakan hyperloop membutuhkan biaya yang sangat mahal jika bisa beroperasi. Selain itu kemampuan daya angkutnya juga sangat terbatas. Bertolak belakang dari prinsip transportasi publik yang bisa mengangkut orang sebanyak mungkin dalam bepergian.



Dia mengatakan perusahaan jutawan Richard Branson, Virgin yang mensponsori pembuatan Virgin Hyperloop bahkan tidak bisa terang-terangan berbicara soal biaya yang akan digunakan jika Virgin Hyperloop beroperasi. Pasalnya, teknologi hyperloop membutuhkan infrastruktur yang sangat mahal. Dia malah mengatakan hyperloop adalah versi lebih mahal dari kereta melayang magnetik yang saat ini sudah beoperasi di kota-kota besar dunia.

"Kereta melayang magnetik itu malah sudah sangat mahal dibandingkan kereta cepat biasa. Nanti, hyperloop adalah versi kereta melayang magnetik yang lebih mahal lagi," jelas Roger Goodal.

Selain itu operator hyperloop akan menghabiskan banyak dana untuk menyiapkan tabung-tabung yang akan mengangkut penumpang. Tabung itu akan sangat mahal karena harus berada dalam tekanan yang sangat rendah sehingga bisa bergerak super kencang. Tidak hanya rel yang digunakan juga akan sangat mahal karena untuk mendukung tabung bergerak sangat kencang rel juga dibuat dari bahan yang tidak biasa. Belum lagi membuat terowongannya agar tabung terlindungi dari gangguan.

"Biaya yang sangat mahal ini tidak akan sepadan dengan daya angkut yang hanya sedikit. Biayanya otomatis akan super mahal," jelasnya. (Baca juga : Wuss... Kereta Super Cepat Ungguli Kecepatan Pesawat Terbang )

Dari situlah Robert Goodal mengatakan hyperloop bukan transportasi yang feasible ke depannya. Ada banyak hal yang harus dipecahkan oleh operator kereta supersonik agar transportasi itu benar-benar bisa digunakan oleh masyarakat dengan mudah.

Diketahui pada 8 November lalu Virgin Hyperloop melakukan uji coba dengan menempuh jarak 500 meter. Dalam ujicoba tersebut, kapsul Virgin Hyperloop diisi oleh dua orang penumpang yakni Chief Technology Offiecer Virgin Hyperloop Josh Giegel dan Director of Passenger Experience Virgin Hyperloop, Sara Luchian. Kedua orang itu menjadi penumpang kapsul Virgin Hyperloop tanpa mengenakan baju khusus.

Hal ini sekaligus membantah kritikan bahwa penumpang Virgin Hyperloop harus mengenakan baju khusus karena kecepatannya yang ekstrem.

Bagi Virgin Hyperloop pengujian itu sendiri masuk dalam kategori sukses meski pun kecepatan yang mereka raih hanyalah mencapai 165 kilometer per jam. Hanya saja itu lebih dari cukup karena trek khusus atau infrastruktur yang mereka buat untuk Virgin Hyperloops hanya mencapai 500 meter. Artinya untuk sampai ke titik akhir tes Virgin Hyperloop hanya butuh waktu 6,25 detik.
(wsb)
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.2452 seconds (10.177#12.26)